AS Naikan Suku Bunga, Berikut Tiga Ancamannya Bagi Indonesia  

Genvoice.id | 09 Oct 2026

WASHINGTON, GENVOICE - Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dari Amerika Serikat secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75-4,00 persen. Pengamat Kebijakan Publik dari FITRA, Badiul Hadi, menilai fenomena tersebut bukan sekadar persoalan transaksi keuangan di Wall Street, ada tiga ancaman serius bagi Indonesia dari sinyal kebijakan The Fed itu.

"Sinyal keras dari risalah rapat FOMC yang menegaskan kebijakan higher for longermenunjukkan bahwa gejolak moneter global belum selesai. Ini bukan sekadar persoalan Wall Street, melainkan memiliki dampak domino langsung terhadap postur APBN, beban utang rakyat, dan kemampuan belanja sosial pemerintah RI," kata Badiul.

Menurut Badiul, tiga ancaman serius bagi Indonesia adalah pertama, pembengkakan debt service ratio dalam APBN. Kenaikan suku bunga The Fed ke kisaran 3,75-4,00 persen akan memicu penguatan dollar AS dan pelarian modal (capital outflows).

Guna menahannya, Bank Indonesia (BI) harus menaikkan suku bunga acuan yang saat ini di level 5,75 persen. Akibatnya imbal hasil SBN melonjak dan memperbesar alokasi pembayaran bunga utang yang memakan ruang belanja produktif.

Kedua, depresiasi rupiah dan risiko imported inflation. Pelemahan rupiah akan menaikkan beban impor barang modal, bahan baku industri, serta bahan pangan pokok. Tanpa intervensi, hal ini berisiko memicu kenaikan harga konsumen domestik. Ia mencatat inflasi sudah merambat naik hingga 3,28 persen.

Ketiga, penyempitan ruang fiskal untuk belanja proteksi sosial. Kenaikan beban utang dan subsidi energi yang membengkak akibat pelemahan rupiah memaksa pemerintah melakukan efisiensi atau pemotongan anggaran belanja publik seperti kesehatan, pendidikan, dan bansos bagi kelompok rentan.

Seperti yang diketahui bahwa risalah rapat Federal Reserve AS yang dirilis pada Rabu (7/10), menunjukkan sebagian besar pengambil kebijakan memperkirakan kenaikan suku bunga pada akhir tahun, sebagai upaya bank sentral mengatasi inflasi yang masih tinggi.

Rumah tangga dan pelaku usaha Amerika Serikat (AS) telah terdampak kenaikan harga selama bertahun-tahun sejak pandemi, sementara The Fed belum mampu mencapai target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen selama lebih dari lima tahun.

"Sehubungan dengan prospek kebijakan moneter setelah pertemuan saat ini, sebagian besar peserta menilai kenaikan lagi dalam kisaran target suku bunga dana federal dengan kemungkinan dilakukan tepat pada akhir tahun," sebut risalah rapat yang dirilis setelah jeda rutin selama tiga pekan.

Langkah Antisipasi

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badiul mendorong tiga langkah konkret. Pemerintah harus menunda proyek infrastruktur non prioritas dan memangkas belanja operasional birokrasi, lalu mengalihkan anggarannya untuk memperkuat bantalan sosial masyarakat miskin terdampak inflasi.

"Selain itu, pengelolaan utang negara perlu dioptimalkan dengan memperbanyak porsi penerbitan SBN berdenominasi rupiah serta memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) guna meminimalisasi beban bunga utang valuta asing," kata Badiul.

Terakhir, dia menekankan agar Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia memperkuat koordinasi fiskal-moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan alokasi anggaran belanja publik yang krusial.