Geger! Meta Dituding Sembunyikan Riset Risiko VR untuk Anak, Mantan Staf Angkat Bicara di Depan Senat AS

Genvoice.id | 09 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Raksasa teknologi Meta kembali menjadi sorotan setelah sekelompok whistleblower mengajukan tuduhan serius mengenai dugaan pembungkaman riset internal terkait risiko virtual reality (VR) terhadap anak-anak dan remaja. Laporan ini mencuat hanya sehari sebelum sidang penting Komite Kehakiman Senat Amerika Serikat, yang dijadwalkan membahas keamanan anak di dunia maya.

Laporan ini pertama kali dilansir oleh The Washington Post dan dikutip oleh The Verge pada Senin (8/9). Disebutkan bahwa empat mantan dan staf aktif Meta mengklaim bahwa perusahaan membatasi bahkan memveto riset yang menyangkut keselamatan pengguna remaja dalam teknologi VR, terutama melalui divisi Reality Labs.

Menurut laporan tersebut, setelah kasus Frances Haugen, whistleblower Meta yang sebelumnya membocorkan dokumen ke Kongres AS, mengemuka, perusahaan mulai meminta tim hukumnya menyaring dan terkadang melarang penelitian yang dinilai sensitif, terutama jika berkaitan dengan anak-anak dan platform seperti Horizon Worlds.

Para pelapor ini kini diwakili oleh Whistleblower Aid, sebuah organisasi hukum nirlaba yang juga mendampingi Haugen dalam pengungkapan sebelumnya.

Menanggapi tuduhan tersebut, Juru Bicara Meta, Dani Lever, membantah keras laporan yang menyebut adanya pembungkaman riset.

"Tuduhan bahwa tim hukum mengesampingkan penelitian hanya didasarkan pada beberapa contoh yang digabungkan agar sesuai dengan narasi yang telah ditentukan sebelumnya dan salah," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Lever juga mengklaim bahwa sejak awal 2022, Meta telah menyetujui hampir 180 studi terkait Reality Labs, termasuk yang fokus pada keselamatan dan kesejahteraan remaja. Ia menambahkan bahwa hasil riset tersebut telah mendorong

Isu ini dipastikan akan menjadi topik panas dalam sidang Komite Kehakiman Senat AS bertajuk:

"Bahaya Tersembunyi: Menelaah Tuduhan Whistleblower bahwa Meta Mengubur Riset Keselamatan Anak",

yang akan digelar Selasa ini waktu setempat.

Tiga anggota dari Partai Republik di komite tersebut telah meminta Meta untuk memberikan informasi lebih lanjut terkait bagaimana perusahaan melindungi anak-anak dan remaja di platform Horizon Worlds, salah satu ruang sosial VR milik Meta.

Masalah Meta tidak berhenti di VR. Pada hari yang sama (Senin, 8/9), mantan kepala keamanan WhatsApp, yang juga anak perusahaan Meta, mengajukan gugatan hukum terhadap perusahaan. Ia menuduh Meta mengabaikan masalah privasi dan keamanan, yang dinilai berisiko terhadap data jutaan pengguna.

Carl Woog, juru bicara WhatsApp, menyebut gugatan tersebut sebagai langkah balasan dari mantan karyawan yang diberhentikan karena performa buruk, dan mengklaim tuduhan itu menyesatkan dan mencemarkan kerja keras tim keamanan Meta.

Tuduhan bertubi-tubi ini menambah daftar panjang masalah regulasi dan etika yang dihadapi Meta dalam beberapa tahun terakhir, khususnya yang menyangkut anak-anak, privasi, dan transparansi riset internal.

Dengan sidang Senat AS yang segera digelar, tekanan terhadap Meta kemungkinan akan meningkat, apalagi di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keselamatan anak dalam ruang digital dan teknologi imersif seperti VR.