Eks Pelatih Arsenal Ajukan Peraturan Baru Offside, Ini Aturan Radikal yang Bisa Ubah Sepak Bola

Genvoice.id | 09 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Arsene Wenger kembali mencuri perhatian dunia sepak bola dengan usulan peraturan baru yang berpotensi mengubah wajah permainan. Mantan manajer Arsenal berusia 75 tahun itu kini menjabat sebagai Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, dan baru-baru ini mengajukan ide perubahan aturan offside yang dianggap bisa mengatasi kontroversi akibat teknologi VAR.

Wenger menilai aturan saat ini terlalu merugikan penyerang karena keputusan VAR kerap didasarkan pada detail kecil yang sulit terlihat secara kasatmata. Ia ingin mengembalikan "keuntungan" bagi pemain depan dengan aturan baru yang menyatakan bahwa seorang pemain dianggap onside jika ada bagian tubuhnya yang sejajar dengan bek terakhir.

"Dengan VAR, keunggulan penyerang hilang dan itu sangat membuat frustrasi. Saya percaya, jika bagian tubuh yang bisa mencetak gol sejajar dengan bek, maka seharusnya tidak dianggap offside," ujar Wenger dalam wawancaranya dengan beIN Sports.

Usulan ini bukan yang pertama dari pria asal Prancis itu. Sebelumnya, ia juga pernah mengajukan prinsip "daylight", yakni pemain dinyatakan onside selama ada jarak atau ruang terang antara dirinya dan bek lawan. Menurut Wenger, keputusan terkait aturan anyar ini akan ditentukan tahun depan oleh International Football Association Board (IFAB), badan yang berwenang menetapkan regulasi sepak bola dunia.

Namun, gagasan Wenger tidak lepas dari kritik. Jamie Carragher, mantan bek Liverpool yang kini menjadi pundit, menilai perubahan tersebut akan mengubah pola permainan secara drastis. Menurutnya, jika aturan ini diterapkan, tim-tim akan lebih banyak bertahan dengan blok rendah demi mengantisipasi serangan lawan. "Ini akan buruk untuk permainan. Kita tidak butuh lebih banyak keuntungan bagi penyerang karena jumlah gol yang tercipta saat ini sudah sangat tinggi," tulis Carragher di X (Twitter).

Selain soal offside, Wenger juga melontarkan pandangan kontroversial terkait Liga Champions. Ia berpendapat bahwa pemenang Liga Europa tidak seharusnya otomatis lolos ke Liga Champions, meski aturan UEFA sejak 2014 telah memberlakukan hal itu. Wenger menilai, khusus untuk Liga Inggris yang sudah memiliki jatah besar, kemenangan di Liga Europa seharusnya hanya menjadi tiket kembali ke kompetisi tersebut, bukan promosi ke Liga Champions.

Pernyataan ini tentu memicu perdebatan baru, terutama karena Manchester United dan Tottenham berpeluang bertemu di final Liga Europa musim ini. Jika mengikuti logika Wenger, meskipun keluar sebagai juara, keduanya tidak otomatis mendapat tiket ke Liga Champions.

Dengan sederet ide kontroversialnya, Wenger sekali lagi menunjukkan bahwa meski sudah lama meninggalkan kursi pelatih Arsenal, pengaruhnya dalam dunia sepak bola tetap besar dan mengguncang perdebatan di kalangan penggemar maupun pengambil keputusan.