BYD Gugat CEO GWM Tank Chang Yao! Hilang Sejak Juli, Kini Sidang Digelar Tanpa Kehadirannya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perseteruan panas antara dua raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD dan Great Wall Motor (GWM), kembali memanas. Kali ini, BYD resmi menggugat Chang Yao, CEO dari sub-merek GWM Tank, terkait dugaan pelanggaran tanggung jawab online.
Dilansir dari Sina Finance, kasus ini telah didaftarkan dengan nomor perkara (2025) Jing 0491 Minchu 7591 dan kini masuk proses persidangan publik oleh Pengadilan Internet Beijing.
Pengadilan menyatakan bahwa Chang Yao tidak dapat dihubungi sejak Juli 2025, dan semua aktivitas media sosialnya dibekukan sejak 24 Juni. Akibat ketidakhadiran berkelanjutan ini, pengadilan memutuskan untuk melanjutkan proses hukum secara online tanpa kehadirannya.
"Setelah 30 hari sejak pengumuman ini diterbitkan, surat panggilan dan dakwaan akan dianggap telah dikirim kepada pihak tergugat," bunyi pernyataan dari situs resmi Jaringan Pengumuman Pengadilan Rakyat.
Pihak pengadilan juga menetapkan bahwa sidang jarak jauh akan digelar di Ruang Sidang 42 Pengadilan Internet Beijing, tiga hari setelah tenggat waktu pengajuan jawaban dakwaan.
Ketidakhadiran Chang Yao menimbulkan spekulasi besar, karena bertepatan dengan tindakan antikorupsi internal di tubuh Great Wall Motor. Meski belum ada konfirmasi resmi, sejumlah pihak mulai meragukan apakah Chang masih menjabat sebagai CEO Tank.
Upaya media untuk menghubungi perwakilan BYD dan GWM belum membuahkan hasil hingga berita ini diterbitkan.
Chang Yao merupakan alumni Universitas York, lulus tahun 2005. Ia bergabung dengan GWM pada 2022 sebagai Senior Director Operasi Pengguna, naik pangkat menjadi Wakil Manajer Umum Tank pada April 2024, dan akhirnya dipercaya menjabat CEO Tank pada Mei 2025.
Tank sendiri adalah sub-brand independen dari GWM yang diluncurkan pada 2021, dengan spesialisasi di segmen kendaraan off-road. Beberapa model andalannya mencakup:
-
Tank 300
-
Tank 400
-
Tank 500
-
Tank 700
Namun, kinerja penjualannya tahun ini menunjukkan tren penurunan. Data resmi menunjukkan penjualan 143.700 unit selama delapan bulan pertama 2025, turun 4,88 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Perseteruan ini tak hanya soal hukum, tapi juga bisa berdampak pada kepercayaan pasar terhadap stabilitas internal produsen otomotif Tiongkok, terutama ketika BYD dan GWM tengah bersaing memperluas dominasi di pasar kendaraan listrik dan off-road global.
Sidang daring yang akan digelar pada akhir September nanti diprediksi bakal jadi titik krusial dalam eskalasi konflik dua merek besar ini.