Trump Sebut Kesepakatan dengan Iran Berakhir, NATO Dukung Serangan Baru AS
JAKARTA, GENVOICE.ID - Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang sebelumnya disepakati kedua negara kini dianggap telah berakhir.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung di Ankara, Turki. Ia menegaskan tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan Iran setelah konflik kembali memanas.
"Saya rasa itu sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," kata Trump.
MoU Dibuat untuk Mengakhiri Konflik
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati nota kesepahaman berisi 14 poin yang mulai berlaku pada 18 Juni. Dokumen tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.
Kesepakatan itu lahir setelah kawasan Timur Tengah dilanda ketegangan akibat serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam MoU tersebut, kedua negara sepakat menghentikan operasi militer melalui mekanisme gencatan senjata. Selain itu, dokumen tersebut juga mengatur sejumlah isu strategis lain, mulai dari situasi di Lebanon, keamanan pelayaran di Selat Hormuz, hingga ekspor minyak Iran dan akses terhadap aset Iran yang sebelumnya dibekukan.
NATO Dukung Respons Militer Amerika Serikat
Di tengah memanasnya kembali hubungan kedua negara, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, secara terbuka mendukung langkah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran.
Menurut Rutte, tindakan Washington merupakan respons yang diperlukan setelah Iran dituduh melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Pada 7 Juli, militer Amerika Serikat melaporkan telah menyerang lebih dari 80 target di wilayah Iran. Washington menyebut operasi tersebut sebagai balasan atas serangan yang menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran justru menuduh Amerika Serikat sebagai pihak yang lebih dahulu melanggar kesepakatan gencatan senjata.
"Saya pikir itu benar-benar diperlukan. Ketika ada gencatan senjata dan Iran pada dasarnya melanggarnya, sangat penting bagi Amerika Serikat untuk bereaksi dengan tegas," ujar Rutte.
NATO Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Selain mendukung langkah militer Amerika Serikat, Rutte mengatakan para pemimpin negara anggota NATO juga memiliki sikap yang sama terkait program nuklir Iran.
Ia menegaskan NATO akan kembali menyerukan agar Iran tidak pernah memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir. Organisasi pertahanan tersebut juga menilai kebebasan pelayaran di Selat Hormuz harus dipulihkan demi menjaga stabilitas perdagangan internasional.
Menurut Rutte, isu keamanan di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu agenda penting yang dibahas dalam KTT NATO karena berkaitan langsung dengan stabilitas global.
Ketegangan Timur Tengah Kembali Meningkat
Pernyataan Donald Trump yang menganggap kesepakatan dengan Iran telah berakhir menjadi sinyal bahwa hubungan kedua negara kembali memasuki fase yang lebih tegang.
Dengan adanya dukungan terbuka dari NATO terhadap langkah militer Amerika Serikat, situasi di kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan menjadi perhatian dunia dalam beberapa waktu ke depan.
Perkembangan tersebut juga memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia