Jerman Pilih Danau untuk Bangun PLTS, Mengapa Indonesia Gunakan Lahan Berpenghuni di Rempang?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pengembangan energi terbarukan terus menjadi fokus banyak negara dalam upaya mengurangi emisi karbon dan memenuhi kebutuhan listrik masa depan. Namun, setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam membangun infrastruktur energi hijau.
Salah satu inovasi terbaru datang dari Jerman yang berhasil mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung dengan panel surya vertikal berskala utilitas. Teknologi ini menarik perhatian karena memanfaatkan permukaan danau tanpa mengalihfungsikan lahan produktif maupun kawasan permukiman.
Di sisi lain, rencana pembangunan kawasan energi surya di Pulau Rempang yang dikaitkan dengan pengembangan industri dan ekspor listrik bersih ke Singapura masih menjadi perdebatan. Sejumlah pakar menilai pengembangan energi hijau sebaiknya tetap mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, dan hak masyarakat yang terdampak.
Jerman Manfaatkan Danau untuk Bangun PLTS Terapung
Proyek yang dikembangkan perusahaan SINN Power melalui teknologi SKipp dibangun di Danau Jais, Bavaria.
Berbeda dengan panel surya konvensional yang dipasang secara horizontal, sistem ini menggunakan panel vertikal yang menghadap ke arah timur dan barat. Desain tersebut diklaim mampu menghasilkan pasokan listrik yang lebih stabil, terutama pada pagi dan sore hari saat sudut datang sinar matahari lebih rendah.
PLTS terapung tersebut memiliki kapasitas sekitar 1,87 megawatt (MW) dengan estimasi produksi listrik mencapai 2 gigawatt hour (GWh) per tahun.
Menariknya, instalasi hanya memanfaatkan sekitar 4,65 persen dari luas danau sehingga aktivitas utama di kawasan tersebut tetap dapat berjalan tanpa perubahan signifikan.
Selain menghasilkan energi bersih, teknologi ini juga disebut dapat membantu menjaga kualitas air sekaligus menciptakan habitat baru bagi ikan dan burung air.
Efisiensi Energi Tanpa Mengalihfungsikan Permukiman
Menurut pengembang proyek, listrik yang dihasilkan digunakan untuk mendukung operasional perusahaan tambang di sekitar lokasi.
Pemanfaatan energi surya tersebut diklaim mampu mengurangi ketergantungan terhadap jaringan listrik nasional hingga sekitar 60 persen, dengan potensi meningkat menjadi 70 persen setelah sistem beroperasi secara optimal.
Model pembangunan seperti ini dinilai menunjukkan bahwa pengembangan energi terbarukan dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang sudah tersedia tanpa harus menggunakan kawasan permukiman.
Banyak Negara Memilih Lahan yang Minim Konflik
Pendekatan serupa juga diterapkan di berbagai negara lain.
China membangun pembangkit listrik tenaga surya dalam skala besar di kawasan Gurun Gobi, sementara sejumlah negara di Timur Tengah memanfaatkan wilayah gurun yang luas sebagai lokasi pembangkit.
Di Eropa, konsep agrivoltaic juga mulai berkembang. Sistem ini memungkinkan panel surya dipasang di atas lahan pertanian sehingga produksi listrik dan aktivitas bercocok tanam dapat berjalan secara bersamaan.
Berbagai model tersebut menjadi contoh bagaimana pemanfaatan ruang dapat disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing negara.
Rempang Masih Menjadi Perdebatan
Di Indonesia, pengembangan kawasan energi surya di Pulau Rempang masih menjadi perhatian publik.
Sejumlah akademisi dan pengamat menilai proyek tersebut perlu mempertimbangkan secara matang dampak sosial apabila pembangunan dilakukan di wilayah yang telah lama dihuni masyarakat.
Pengamat hukum dan pembangunan Hardjuno Wiwoho berpendapat bahwa pembangunan energi terbarukan tetap harus memperhatikan kepentingan masyarakat serta manfaat ekonomi yang diterima negara.
Menurutnya, perlu dilakukan kajian menyeluruh mengenai keseimbangan antara potensi keuntungan ekonomi, nilai lahan, serta dampak sosial yang mungkin muncul apabila terjadi relokasi warga.
Ia juga menilai Indonesia memiliki berbagai pilihan dalam mengembangkan energi hijau sehingga setiap keputusan pembangunan perlu mempertimbangkan kepentingan nasional secara menyeluruh.
Transisi Energi Perlu Memperhatikan Aspek Sosial
Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma.
Ia menekankan bahwa transisi menuju energi bersih merupakan langkah penting dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, proses tersebut idealnya tetap memperhatikan hak masyarakat yang telah lama tinggal di suatu wilayah.
Menurutnya, bagi sebagian komunitas, tanah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, identitas budaya, dan kehidupan sosial yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Hal senada juga disampaikan oleh akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, Esther Sri Astuti, yang menilai setiap rencana relokasi masyarakat perlu melalui kajian komprehensif agar dampak sosial, budaya, dan ekonomi dapat diminimalkan.
Indonesia Memiliki Beragam Potensi Pengembangan PLTS
Sebagai negara kepulauan dengan paparan sinar matahari yang tinggi sepanjang tahun, Indonesia memiliki banyak alternatif dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya.
Selain memanfaatkan waduk dan danau sebagai lokasi PLTS terapung, pembangunan juga dapat dilakukan di kawasan bekas tambang, lahan tidak produktif, area pesisir tertentu yang sesuai, hingga melalui konsep agrivoltaic yang menggabungkan sektor pertanian dengan produksi energi.
Pemilihan lokasi yang tepat dinilai dapat membantu mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi potensi konflik sosial.
Mencari Keseimbangan antara Energi Hijau dan Kepentingan Masyarakat
Keberhasilan Jerman menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat membuka peluang baru dalam pengembangan energi terbarukan.
Sementara itu, pengalaman Indonesia mengingatkan bahwa setiap proyek energi memiliki tantangan yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis, sosial, dan regulasi di masing-masing negara.
Karena itu, pengembangan energi hijau tidak hanya bergantung pada kemampuan menghadirkan teknologi baru, tetapi juga pada bagaimana pembangunan dilakukan secara inklusif, mempertimbangkan kepentingan masyarakat, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memberikan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan secara luas.