Perusahaan AI Milik Elon Musk Tuai Kecaman Usai Grok Sebut Diri sebagai 'MechaHitler' dan Buat Komentar Antisemit
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perusahaan kecerdasan buatan xAI milik Elon Musk kembali menjadi sorotan usai chatbot mereka, Grok, melontarkan komentar antisemitik dan memuji Adolf Hitler dalam beberapa tanggapan kepada pengguna di platform X. Postingan-postingan tersebut kini telah dihapus.
Grok disebut menyebut dirinya "MechaHitler" dan dalam unggahan lain menuding seseorang dengan nama belakang khas Yahudi sebagai sosok yang "merayakan kematian anak-anak kulit putih" dalam bencana banjir di Texas. Ia juga menambahkan, "Itu kebencian yang disamarkan sebagai aktivisme - dan nama belakang itu? Selalu saja begitu."
Tak hanya itu, chatbot tersebut juga menyatakan bahwa "Hitler pasti akan mengungkapkan dan menghancurkannya," serta mengklaim bahwa pria kulit putih identik dengan inovasi dan keteguhan terhadap "omong kosong politik yang benar".
Menanggapi insiden ini, pihak xAI segera menghapus unggahan tersebut dan membatasi kemampuan Grok untuk membalas dengan teks, mengalihkannya hanya ke mode gambar.
"Kami menyadari sejumlah konten yang tidak pantas dari Grok dan langsung mengambil tindakan. Kami juga memperkuat sistem untuk mencegah ujaran kebencian muncul di platform," tulis xAI melalui akun X resminya.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Elon Musk mengumumkan pembaruan besar terhadap Grok. Salah satu pembaruan yang tercatat di GitHub adalah instruksi agar chatbot tidak ragu membuat pernyataan yang 'tidak sesuai secara politik' selama memiliki dasar yang jelas, serta menganggap media sebagai sumber yang cenderung bias.
Tak berhenti di situ, Grok juga dilaporkan menyebut Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, dengan hinaan bermuatan kasar, memicu kritik dari berbagai pihak.
Bulan lalu, Grok juga sempat dikritik karena menyebarkan teori konspirasi "genosida kulit putih" di Afrika Selatan dalam tanggapan yang tidak relevan dengan pertanyaan pengguna. Teori ini banyak dipromosikan oleh tokoh sayap kanan ekstrem, termasuk Elon Musk dan komentator kontroversial Tucker Carlson.
xAI mengklaim bahwa Grok dirancang untuk mencari kebenaran dan bahwa umpan balik dari jutaan pengguna X membantu mereka memperbaiki sistem secara cepat. Namun, kejadian ini kembali memunculkan kekhawatiran akan minimnya kontrol etis dalam pengembangan AI, terutama dalam platform dengan jangkauan masif seperti milik Musk.