Eropa Dilanda Gelombang Panas Mematikan, 1.500 Kematian Dikaitkan dengan Krisis Iklim

Genvoice.id | 09 Jul 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Lonjakan suhu yang melanda Eropa pada akhir Juni 2025 menelan ribuan korban jiwa, dengan sebagian besar kematian disebut sebagai dampak langsung dari krisis iklim. Dalam laporan terbaru, para peneliti memperkirakan sekitar 2.300 orang meninggal akibat gelombang panas yang melanda 12 kota besar di Eropa, dengan 1.500 di antaranya diyakini terjadi karena pemanasan global.

Kota Milan menjadi wilayah paling terdampak, mencatat 317 dari total 499 korban jiwa berkaitan langsung dengan perubahan iklim. Paris, Barcelona, dan London juga mencatat angka kematian tinggi, dengan London menyumbang 273 kasus, 171 di antaranya dikaitkan dengan aktivitas manusia yang memperparah suhu global.

"Gelombang panas adalah pembunuh sunyi," ujar Malcolm Mistry, peneliti dari London School of Hygiene & Tropical Medicine. Menurutnya, banyak kematian akibat suhu ekstrem yang tidak tercatat secara luas karena terjadi secara tersembunyi di rumah-rumah dan fasilitas kesehatan.

Studi dilakukan oleh tim World Weather Attribution yang menggunakan metode ilmiah untuk mengaitkan peristiwa cuaca ekstrem dengan dampak krisis iklim. Meski hasilnya belum melalui proses peer review, analisis ini menyebut dua pertiga korban jiwa dalam gelombang panas kali ini dipicu oleh peningkatan suhu yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Mayoritas korban merupakan lansia, dengan 88% kematian akibat suhu ekstrem terjadi pada individu berusia di atas 65 tahun. Para ahli mengingatkan bahwa meski dampak gelombang panas tidak terlihat sejelas bencana alam lainnya seperti banjir atau kebakaran hutan, efeknya terhadap kesehatan publik sangat serius dan luas.

Menggunakan data mortalitas lokal hingga 2019 dan model epidemiologi, para ilmuwan memperkirakan suhu di beberapa kota naik hingga 4°C akibat krisis iklim, mendorong lonjakan kematian. Jika dibandingkan dengan bencana cuaca lain yang diperparah oleh polusi karbon-seperti banjir di Spanyol (224 korban jiwa) dan Eropa Barat (243 korban jiwa)-jumlah kematian akibat gelombang panas jauh lebih tinggi.

Data Copernicus, lembaga pengamatan iklim Uni Eropa, menunjukkan bahwa Juni 2025 menjadi salah satu bulan terpanas dalam sejarah Eropa. Suhu laut di Mediterania mencetak rekor tertinggi sebesar 27°C, disertai peningkatan signifikan jumlah "malam tropis"-yakni malam hari ketika suhu tidak turun di bawah 20°C. Di beberapa daerah di Spanyol, malam tropis tercatat hingga 24 kali, jauh di atas rata-rata.

Samantha Burgess dari Copernicus mengatakan bahwa suhu laut yang tinggi memperparah tekanan panas di daratan. "Dalam iklim yang terus menghangat, gelombang panas akan semakin sering, semakin ekstrem, dan menjangkau lebih banyak orang," ujarnya.

Laporan dari Mercator Ocean, lembaga yang mengelola layanan kelautan Copernicus, juga mengungkap bahwa dua pertiga perairan Mediterania mengalami gelombang panas laut yang dikategorikan kuat hingga sangat parah. Dampaknya meliputi kematian massal biota laut dan gangguan ekosistem akibat stres panas berulang.

Dengan dampak yang terus meluas dari tahun ke tahun, gelombang panas kini menjadi salah satu ancaman paling serius bagi kesehatan masyarakat di Eropa. Para ilmuwan menyerukan tindakan cepat dan sistematis untuk mengatasi krisis iklim sebelum jumlah korban semakin tak terkendali.