Monster Pabrik Rambut Beda dari Horor Indonesia, 90 Persen Adegan Ternyata Tanpa CGI

Genvoice.id | 09 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Di tengah maraknya film horor yang mengandalkan efek komputer canggih, Monster Pabrik Rambut justru mengambil jalan yang berbeda. Film terbaru garapan sutradara Edwin ini memilih menghadirkan teror lewat efek praktikal yang dibuat secara langsung di lokasi syuting, bukan sekadar mengandalkan CGI.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Monster Pabrik Rambut mulai mencuri perhatian publik. Bukan hanya menawarkan cerita yang tidak biasa, film ini juga menghadirkan pengalaman visual yang jarang ditemukan dalam horor Indonesia saat ini.

Menariknya, sebagian besar elemen menyeramkan yang muncul di layar ternyata benar-benar dibuat secara fisik selama proses produksi. Mulai dari monster hingga rambut-rambut hidup yang bergerak sendiri, semuanya dikerjakan dengan teknik khusus agar terlihat lebih nyata di depan kamera.

Menurut Edwin, sekitar 90 persen efek dalam film ini menggunakan practical effect.

"Hampir 90 persen practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami juga banyak menggunakan teknik sling," kata Edwin dalam keterangan tertulis.

Rambut Hidup dan Monster Dibuat Secara Nyata

Salah satu elemen yang paling mencuri perhatian dalam film ini adalah kemunculan rambut-rambut misterius yang bergerak sendiri. Alih-alih dibuat menggunakan animasi komputer, tim produksi memilih cara yang jauh lebih rumit.

Edwin mengungkapkan bahwa sejumlah adegan rambut direkam menggunakan teknik khusus di dalam air. Cara tersebut dipilih agar pergerakan rambut terlihat lebih lembut, alami, dan terasa hidup saat muncul di layar.

"Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik," ujarnya.

Pendekatan ini membuat visual yang dihasilkan terasa berbeda dibandingkan horor modern yang sering kali dipenuhi efek digital berlebihan.

Terinspirasi Film Fantasi Klasik dan Komik Lawas

Tak hanya mengandalkan efek praktikal, Monster Pabrik Rambut juga memiliki konsep visual yang cukup unik. Edwin mengaku terinspirasi oleh film-film fantasi era 1980-an yang memiliki karakter visual khas dan lebih organik.

Untuk mendapatkan tampilan tersebut, tim produksi menggunakan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD). Melalui proses ini, gambar yang awalnya direkam secara digital akan dicetak ke pita seluloid terlebih dahulu sebelum dipindai kembali menjadi format digital.

Hasilnya adalah tekstur gambar yang menyerupai film-film klasik dengan nuansa yang lebih hangat dan artistik.

Di sisi lain, penulis skenario Eka Kurniawan mengungkapkan bahwa desain monster dalam film ini juga memiliki akar dari budaya populer Indonesia.

Ia menyebut komik-komik Indonesia era 1980-an menjadi salah satu sumber inspirasi utama. Salah satu referensinya adalah karakter-karakter unik dan grotesk yang muncul dalam komik Petruk Gareng karya Tatang S..

Horor yang Tampil Berani dan Tidak Biasa

Berbeda dari banyak film horor yang mengandalkan jump scare atau kisah makhluk gaib populer, Monster Pabrik Rambut memilih membangun ketegangan lewat dunia yang terasa absurd, aneh, sekaligus penuh fantasi.

Eksperimen visual bahkan semakin terlihat menjelang akhir film. Edwin memadukan gaya sinema dengan sentuhan visual ala komik melalui penggunaan warna-warna mencolok dan komposisi gambar yang ekspresif.

Perpaduan horor, fantasi, seni visual, dan referensi budaya Indonesia membuat Monster Pabrik Rambut tampil dengan identitas yang kuat. Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda bagi penonton yang mulai mencari pengalaman horor baru di luar formula yang sudah sering digunakan.

Dengan dominasi practical effect, monster yang dibuat secara nyata, hingga sentuhan visual ala film klasik, Monster Pabrik Rambut berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia paling unik yang hadir tahun ini.