QRIS Indonesia Siap Go International ke Negara APEC, Airlangga Hartarto Targetkan Ekspor Produk Lokal Makin Gila-gilaan
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah Indonesia bener-bener lagi tancap gas buat bikin ekonomi kita makin diperhitungkan di kancah dunia. Kabar terbaru yang lagi hangat dibicarakan adalah ambisi besar Indonesia untuk memperluas dominasinya di pasar internasional, terutama lewat negara-negara yang tergabung dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Nggak tanggung-tanggung, strategi yang disiapkan mencakup dua aspek sekaligus: kirim barang alias ekspor besar-besaran dan digitalisasi pembayaran lewat QRIS yang bakal dibikin makin mendunia.
Langkah ini diambil karena kawasan Asia-Pasifik dinilai sebagai lahan basah yang punya potensi duit sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Bayangin saja, kalau rencana ini mulus, kalian yang lagi traveling ke luar negeri mungkin nggak perlu ribet tukar uang lagi, cukup scan pakai aplikasi di HP. Selain itu, produk-produk buatan tangan kreatif lokal atau hasil bumi kita bakal makin gampang ditemukan di rak-rak supermarket negara maju seperti Amerika Serikat atau China. Ini adalah bukti kalau Indonesia nggak mau cuma jadi penonton di tengah persaingan ekonomi global yang makin ketat, nih Gen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kerja sama dengan negara anggota APEC adalah kunci utama. Menurut beliau, Indonesia sangat butuh pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kuat, dan pasar ekspor di kawasan ini adalah solusinya. Ternyata, selama ini sekitar 70 persen total ekspor kita sudah mengalir deras ke negara-negara APEC. Jadi, wajar banget kalau pemerintah pengen hubungan ini makin solid dan nggak ada hambatan, nih Gen.
"Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan dengan negara-negara APEC ini, kita bisa meningkatkan ekspor kita," ujar Airlangga.
Produk Unggulan dan Strategi Scan QRIS di Luar Negeri
Bicara soal barang yang dikirim, Indonesia masih punya jagoan-jagoan yang jadi rebutan dunia. Mulai dari logam, minyak kelapa sawit, sampai produk industri yang butuh banyak tenaga kerja kayak furnitur, pakaian, sepatu, dan tekstil. Nggak ketinggalan, sektor pertanian dan perikanan kayak udang juga jadi komoditas yang laris manis di pasar internasional. Kehadiran raksasa ekonomi seperti Amerika Serikat dan China di dalam APEC juga dianggap sebagai peluang emas yang harus terus digali potensinya demi kemakmuran dalam negeri.
Tapi nggak cuma soal kirim barang fisik, Indonesia juga pengen sistem pembayaran digital kita, yaitu QRIS, bisa dipakai di mana-mana. Saat ini, QRIS sebenarnya sudah mulai merambah negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, sampai kawasan Timur Tengah. Namun, Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah bakal terus mendorong supaya teknologi pembayaran simpel ini bisa diterima di lebih banyak negara anggota APEC lainnya. Hal ini dilakukan biar aktivitas ekonomi dan transaksi lintas negara jadi makin simpel dan tanpa drama ribet.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Sekretariat APEC, Eduardo Pedrosa, menyebutkan kalau integrasi ekonomi bakal jadi bahasan paling panas di APEC 2026 nanti, di mana China bakal jadi tuan rumahnya. Peran para pelaku bisnis sangat krusial di sini karena mereka yang paling tahu kondisi lapangan. Pembahasan soal perjanjian dagang besar seperti CPTPP dan RCEP juga terus dimatangkan biar aktivitas bisnis di kawasan Asia-Pasifik makin menyatu dan lancar jaya.