Viral Warganet Menangisi Jokowi Usai Sidang Ijazah, Pandji hingga Ray Rangkuti Ikut Bereaksi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena warganet yang mengaku menangisi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ramai diperbincangkan setelah persidangan dugaan pencemaran nama baik terkait isu ijazah palsu pada Kamis (5/11/2026). Sejumlah foto Jokowi saat menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur beredar luas di media sosial dan memancing beragam reaksi.
Dalam persidangan tersebut, Jokowi hadir sebagai saksi pelapor dalam perkara dugaan pencemaran nama baik yang menyeret Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma. Perhatian warganet tertuju pada momen ketika Jokowi terlihat berjongkok untuk merapikan dan mengambil dokumen ijazahnya di hadapan majelis hakim.
Foto tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial. Sejumlah pengguna mengaku merasa sedih melihat Jokowi harus membereskan dokumennya sendiri di ruang sidang.
Salah satu warganet bahkan menyampaikan rasa simpatinya melalui unggahan yang kemudian ramai dibicarakan. Ia menilai Jokowi tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, terlepas dari persoalan yang sedang diproses dalam persidangan.
"Momen Pak Jokowi terlihat membereskan dokumennya sendiri. Saya nangis melihat BPK jongkok mengambil berkas sendiri di lantai, semoga sehat selalu Pak, percayalah hari ini buanyaaakkkk sekali doa-doa yang mengalir untuk panjenengan. Terlepas benar tidaknya, tapi ga seharusnya beliau diperlakukan seperti ini," tulis salah satu pengguna media sosial.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan perdebatan di ruang publik. Sebagian warganet menunjukkan simpati kepada Jokowi, sementara sejumlah tokoh justru mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbawa suasana emosional.
Fenomena Menangisi Pejabat Pernah Terjadi Sebelumnya
Fenomena menangisi tokoh politik sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sebelum ramai warganet menangisi Jokowi, reaksi serupa juga pernah muncul ketika Prabowo Subianto masih berstatus calon presiden dalam kontestasi Pilpres 2024.
Saat itu, Prabowo menghadapi kritik dan serangan dari lawan debat dalam rangkaian debat capres. Situasi tersebut memunculkan berbagai video reaksi warganet yang memperlihatkan kesedihan dan simpati kepada Prabowo.
Komika Pandji Pragiwaksono turut memberikan tanggapan terhadap fenomena tersebut. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mencurahkan emosi kepada pejabat, tetapi juga memperhatikan persoalan yang dialami masyarakat luas.
Pandji membandingkan reaksi masyarakat yang menangisi Jokowi dengan kondisi warga yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, persoalan yang dialami masyarakat seharusnya juga mendapatkan perhatian dan kepedulian.
"Kalo elo nangisin Jokowi tapi ga nangisin korban karhutla, janggal sih," tulis Pandji dalam unggahannya.
Ray Rangkuti Ingatkan Sejumlah Kebijakan Era Jokowi
Selain Pandji, pengamat politik Ray Rangkuti juga menyampaikan pandangannya mengenai fenomena warganet yang menangisi Jokowi. Ia mengajak masyarakat mengingat sejumlah kebijakan dan peristiwa politik selama Jokowi menjabat sebagai presiden.
Ray menyinggung beberapa persoalan, mulai dari revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2019 hingga polemik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang berkaitan dengan pencalonan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilpres 2024.
Ia juga mengungkit persoalan yang berkaitan dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta sejumlah lembaga negara lainnya. Menurut Ray, perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada momen emosional di ruang sidang, tetapi juga pada berbagai persoalan kebijakan dan tata kelola pemerintahan.
"Seandainya air mata itu tumpah karena: KPK dijebol, juga MK, KPU, Dikdasmen, DPR, dan polisi demi ambisi mewariskan tahta untuk keluarga," jelas Ray.
Perbedaan tanggapan tersebut memperlihatkan beragam respons masyarakat terhadap kehadiran Jokowi dalam persidangan. Di satu sisi, ada warganet yang menunjukkan simpati melalui unggahan emosional, sedangkan pihak lain mengajak publik melihat kembali rekam jejak kebijakan dan persoalan politik selama masa pemerintahannya.
Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah potongan momen di ruang sidang dapat berkembang menjadi perbincangan luas di media sosial. Reaksi publik pun tidak hanya berkaitan dengan jalannya perkara ijazah, tetapi turut membawa kembali perdebatan mengenai kepemimpinan dan kebijakan politik di Indonesia.