Indonesia Diserang 350 Ribu Kali dalam Sehari, Sektor Perbankan Jadi Target Utama Serangan Siber

Genvoice.id | 08 Nov 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Indonesia menghadapi ratusan ribu aktivitas ancaman siber dalam kurun waktu 24 jam. Berdasarkan pemantauan dasbor FortiGuard Labs, sekitar 350.600 aktivitas serangan tercatat menyasar berbagai sektor di Indonesia pada Sabtu, 7 November 2026.

Sektor perbankan, keuangan, dan asuransi menjadi sasaran terbanyak dalam pemantauan tersebut. Sementara itu, sektor pemerintahan dan fasilitas vital negara juga tercatat menghadapi aktivitas serangan dalam jumlah besar.

Data FortiGuard Labs menunjukkan sekitar 214 ribu aktivitas serangan menyasar sektor perbankan, keuangan, dan asuransi. Adapun sektor pemerintahan serta fasilitas vital negara menghadapi sekitar 79 ribu percobaan serangan.

Informasi mengenai tingginya aktivitas ancaman siber tersebut juga sempat dibagikan oleh seorang pengguna media sosial Threads. Namun, angka dan sektor yang menjadi sasaran terus berubah ketika dasbor kembali diperiksa pada Minggu, 8 November 2026.

Jumlah Serangan Siber Berubah dalam Hitungan Jam

Dalam pemantauan sekitar pukul 08.00 WIB pada Minggu pagi, sektor kesehatan atau healthcare justru tercatat sebagai sasaran terbanyak. Sektor tersebut mencatat sekitar 2.500 aktivitas serangan, disusul transportasi dan logistik dengan sekitar 1.500 aktivitas.

Sementara itu, sektor pemerintahan tercatat menghadapi sekitar 298 aktivitas serangan pada waktu pemantauan tersebut. Angka ini kemudian kembali mengalami perubahan cukup besar dalam pemantauan berikutnya.

Sektor perbankan, keuangan, dan asuransi kembali menempati posisi teratas dengan sekitar 255 ribu aktivitas serangan. Sektor kesehatan menyusul dengan 184 ribu aktivitas, sedangkan pemerintahan mencatat 112 ribu aktivitas.

Selain itu, sektor manufaktur menghadapi sekitar 75 ribu aktivitas serangan. Sementara itu, sektor teknologi tercatat mengalami sekitar 45 ribu aktivitas dalam pemantauan yang sama.

Perubahan angka dalam rentang waktu singkat tersebut menunjukkan bahwa data pada dasbor FortiGuard Labs bersifat dinamis. Informasi yang ditampilkan dapat diperbarui secara berkala sehingga jumlah aktivitas maupun sektor yang menjadi sasaran bisa berubah.

Jakarta hingga Kendal Masuk Peta Ancaman Siber

Selain memperlihatkan sektor yang menjadi sasaran, dasbor FortiGuard Labs juga menampilkan persebaran geografis aktivitas ancaman siber. Sejumlah wilayah di Indonesia yang muncul dalam pemantauan tersebut antara lain Jakarta, Karanganyar, Telukjambe, dan Kendal.

Negara yang tercatat sebagai asal lalu lintas serangan juga mengalami perubahan dari satu waktu pemantauan ke waktu lainnya. Dalam pemantauan pada Minggu, 8 November 2026 sekitar pukul 11.00 WIB, beberapa negara yang muncul di antaranya Kazakhstan, Pakistan, dan Brasil.

Meski begitu, informasi geografis tersebut belum bisa dijadikan bukti bahwa pelaku serangan benar-benar berada di wilayah atau negara yang tercantum. Lokasi yang ditampilkan dalam platform pemantauan ancaman siber tidak otomatis menunjukkan lokasi sebenarnya dari pihak yang melakukan serangan.

Indonesia Masuk Empat Besar di Asia Pasifik

Dalam pemantauan FortiGuard Labs untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia juga masuk dalam empat negara dengan aktivitas serangan siber tertinggi selama periode 24 jam. Indonesia tercatat mengalami sekitar 189 ribu aktivitas serangan.

Jumlah tersebut berada di bawah Selandia Baru yang mencatat sekitar 993 ribu aktivitas. Australia berada di urutan berikutnya dengan 558 ribu aktivitas, sedangkan Malaysia mencatat sekitar 496 ribu aktivitas serangan.

Angka tersebut memperlihatkan tingginya aktivitas ancaman siber yang terdeteksi di kawasan Asia Pasifik. Namun, data pemantauan perlu dibaca secara hati-hati karena jumlah aktivitas yang tercatat tidak selalu menggambarkan jumlah serangan yang berhasil menembus sistem atau menyebabkan kerugian.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih berupaya meminta konfirmasi dari sejumlah pakar keamanan siber dan pihak terkait. Permintaan konfirmasi juga ditujukan kepada perwakilan sektor perbankan serta pemerintah untuk mendalami temuan aktivitas ancaman siber tersebut.