Hilang Ingatan Usai Keracunan MBG, Benarkah Ada Hubungannya?

Genvoice.id | 08 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi sorotan setelah muncul kabar adanya siswa yang mengalami gangguan ingatan. Selain keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan, sejumlah siswa disebut mengalami kondisi hingga lupa terhadap anggota keluarganya.

Kabar tersebut kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan hubungan antara keracunan makanan dan hilang ingatan. Terlebih, pemeriksaan laboratorium menemukan tiga jenis bakteri pada sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi siswa, yakni Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli atau E. coli.

Hilang Ingatan Tak Bisa Langsung Dikaitkan dengan Keracunan

Secara medis, amnesia terjadi ketika fungsi otak yang berkaitan dengan penyimpanan maupun pengambilan kembali informasi mengalami gangguan. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan tidak otomatis muncul hanya karena seseorang mengalami keracunan makanan.

Cedera kepala menjadi salah satu kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan mengingat. Benturan keras akibat kecelakaan atau kejadian lainnya bisa menyebabkan gangguan pada bagian otak yang berperan dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori.

Gangguan kognitif seperti demensia dan penyakit Alzheimer juga dapat menyebabkan penurunan daya ingat. Kondisi tersebut umumnya berkembang secara bertahap dan lebih banyak ditemukan pada usia lanjut, meskipun gangguan memori dapat memiliki banyak penyebab lain.

Stroke juga dapat mengganggu fungsi memori apabila aliran darah menuju otak mengalami gangguan. Kerusakan jaringan otak akibat kurangnya suplai darah dapat memengaruhi kemampuan tertentu, termasuk proses mengingat dan mengolah informasi.

Kekurangan Nutrisi hingga Infeksi Bisa Memengaruhi Memori

Faktor nutrisi juga dapat berkaitan dengan gangguan fungsi otak. Kekurangan vitamin B1 atau tiamin dalam kondisi berat, misalnya, dapat menimbulkan gangguan neurologis yang berpengaruh terhadap kemampuan kognitif dan memori.

Infeksi atau peradangan pada otak juga perlu diperhatikan sebagai salah satu kemungkinan penyebab gangguan ingatan. Kondisi seperti ensefalitis maupun masalah pada jaringan otak, termasuk tumor tertentu, dapat mengganggu fungsi neurologis.

Karena penyebabnya beragam, seseorang yang mengalami gangguan ingatan perlu mendapatkan pemeriksaan medis untuk mengetahui faktor yang mendasarinya. Gejala yang muncul setelah keracunan makanan tidak cukup untuk membuktikan bahwa gangguan memori disebabkan langsung oleh bakteri dalam makanan.

Faktor Psikologis Juga Bisa Memicu Gangguan Ingatan

Gangguan ingatan tidak selalu berkaitan dengan kerusakan fisik pada otak. Stres berat, trauma psikologis, dan depresi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkonsentrasi, memproses informasi, maupun mengingat kejadian tertentu.

Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami amnesia disosiatif yang berkaitan dengan tekanan psikologis atau pengalaman traumatis. Karena itu, aspek psikologis juga perlu dipertimbangkan ketika seseorang mengalami gangguan ingatan tanpa penyebab neurologis yang jelas.

Pola hidup juga dapat memengaruhi kemampuan otak dalam menjalankan fungsi memori. Konsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka panjang, misalnya, dapat berdampak pada sistem saraf dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi tertentu.

Kurang tidur juga dapat membuat seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan lebih mudah lupa. Tidur yang cukup dibutuhkan otak untuk menjalankan berbagai proses penting, termasuk konsolidasi memori.

Ada Tiga Bakteri dalam Sampel Makanan di Karo

Dalam kasus dugaan keracunan MBG di Karo, UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah sampel. Laporan bernomor 008.2/409/UPTD LABKES/VIII/2026 tersebut diterbitkan pada 16 Agustus 2026 setelah sampel dikirim Dinas Kesehatan Kabupaten Karo pada 14 Agustus 2026.

Hasil pemeriksaan menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi. Sementara itu, Staphylococcus aureus ditemukan pada sampel ikan dencis dengan saus, sedangkan E. coli terdeteksi pada sampel melon dari sekolah.

Sampel muntahan salah satu siswa juga menunjukkan hasil positif Staphylococcus aureus. Temuan tersebut menjadi perhatian karena bakteri-bakteri tersebut dapat berkaitan dengan penyakit akibat pangan.

Namun, hasil pemeriksaan tersebut tetap perlu dibaca secara hati-hati. Keberadaan bakteri pada sampel makanan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa bakteri tersebut menjadi penyebab langsung gangguan ingatan yang dialami seorang siswa.

Sampel dari Dapur Penyedia Dilaporkan Negatif

Hal lain yang menjadi perhatian adalah hasil pemeriksaan terhadap makanan yang berasal dari dapur penyedia. Sampel tersebut dilaporkan negatif terhadap Salmonella, E. coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus.

Perbedaan hasil antara sampel makanan di sekolah dan makanan dari dapur penyedia membuat rantai penanganan makanan setelah keluar dari dapur perlu ikut ditelusuri. Proses distribusi, penyimpanan, waktu tunggu, penanganan, hingga penyajian di sekolah menjadi bagian yang penting untuk diperiksa.

Jadi, Apakah Keracunan MBG Bisa Bikin Lupa Ingatan?

Keracunan atau infeksi akibat makanan memang dapat menimbulkan gejala seperti muntah, diare, dan kehilangan cairan. Dalam kondisi yang berat, dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit dapat menyebabkan gangguan serius pada tubuh dan berpotensi memengaruhi fungsi otak.

Namun, kondisi tersebut tidak sama dengan menyimpulkan bahwa bakteri yang ditemukan dalam makanan terbukti menyebabkan amnesia. Untuk memastikan penyebab gangguan ingatan, diperlukan pemeriksaan medis menyeluruh terhadap pasien.

Dokter perlu melihat berbagai kemungkinan, mulai dari tingkat dehidrasi dan keseimbangan elektrolit hingga kemungkinan infeksi, kondisi neurologis, serta faktor psikologis. Dengan pemeriksaan tersebut, penyebab gangguan memori dapat dinilai berdasarkan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Karena itu, kabar mengenai "lupa ingatan akibat keracunan MBG" masih membutuhkan pembuktian medis lebih lanjut. Temuan bakteri pada makanan tidak seharusnya langsung dijadikan kesimpulan bahwa keracunan menjadi penyebab amnesia.

Meski demikian, keberadaan bakteri pada sejumlah sampel makanan tetap menjadi alarm penting terkait keamanan program MBG. Pengawasan tidak hanya diperlukan pada proses memasak, tetapi juga selama makanan disimpan, didistribusikan, ditangani, dan disajikan kepada siswa.

Pada akhirnya, penyelidikan sumber kontaminasi dan pemeriksaan kesehatan siswa perlu dilakukan secara menyeluruh. Langkah tersebut penting agar penyebab gangguan kesehatan dapat diketahui secara objektif sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem keamanan makanan MBG.