Alcaraz Kalahkan Sinner di Final US Open, Raih Gelar Major Kedua Musim Ini
JAKARTA, GENVOICE.ID - Rivalitas panas antara Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner kembali berlanjut di panggung Grand Slam. Kali ini, Alcaraz keluar sebagai pemenang dalam final US Open 2025, Minggu (7/9) waktu setempat atau Senin WIB, setelah menundukkan Sinner dalam empat set, 6-2, 3-6, 6-1, 6-4.
Kemenangan ini membawa Alcaraz meraih gelar US Open keduanya, sekaligus mempertegas dominasinya atas petenis Italia tersebut di turnamen major. Pertandingan yang berlangsung selama dua jam 42 menit itu menjadi Grand Slam final ketiga berturut-turut antara kedua petenis muda ini, dan kembali menegaskan bahwa mereka adalah dua kekuatan utama dalam tenis putra era saat ini.
Petenis asal Spanyol itu menampilkan performa impresif sepanjang laga. Ia mencatat 42 winner, unggul jauh dari Sinner yang hanya mencatatkan 21. Alcaraz juga tampil solid dalam servis, hanya kehilangan sembilan poin dari servis pertamanya dan memenangi 98 dari 101 gim servis sepanjang turnamen. Dalam pertandingan final sendiri, ia hanya satu kali kehilangan servis.
Dengan performa tersebut, Alcaraz menjadi petenis tunggal Grand Slam kedua sejak 1991 yang memenangi gelar dengan kehilangan tiga gim servis atau kurang dalam satu turnamen. Sebelumnya, rekor ini hanya dicatat oleh Pete Sampras di Wimbledon 1994 dan 1997.
Usai pertandingan, Sinner memberikan selamat kepada Alcaraz dan mengakui keunggulan lawannya.
"Kalian melakukan pekerjaan yang luar biasa. Saya tahu ada banyak kerja keras di balik penampilan hari ini. Kalian lebih baik dari saya. Nikmatilah, ini momen yang luar biasa," ujar Sinner di podium penyerahan trofi.
Sementara itu, Alcaraz tak lupa memberikan penghargaan bagi tim dan keluarganya atas pencapaian ini.
"Saya sungguh beruntung memiliki kalian semua. Kerja keras yang kalian lakukan membuat saya semakin baik, tidak hanya secara profesional, tetapi juga pribadi," kata Alcaraz.
Kemenangan di New York ini menandai gelar Grand Slam keenam Alcaraz dalam kariernya, sekaligus gelar major kedua pada musim 2025. Ia juga mencatat rekor 61 kemenangan sepanjang musim, menjadikannya pemain dengan performa paling konsisten tahun ini.
Alcaraz juga kembali ke posisi nomor satu dunia ATP untuk pertama kalinya sejak September 2023, menggusur Sinner dari puncak ranking. Secara simbolis, pencapaian ini bertepatan dengan peringatan 22 tahun pelatihnya, Juan Carlos Ferrero, saat pertama kali mencapai peringkat nomor satu dunia pada 2003.
Meski gagal menang, Jannik Sinner tetap mencatat sejarah penting. Ia menjadi petenis putra termuda di era Open yang berhasil mencapai final di keempat turnamen Grand Slam dalam satu musim: Australian Open, Roland Garros, Wimbledon, dan US Open.
Petenis berusia 24 tahun itu sebelumnya telah memenangkan Australian Open dan Wimbledon tahun ini, serta menjadi runner-up di Roland Garros. Sinner juga mencatat 27 kemenangan beruntun di turnamen major lapangan keras, hingga akhirnya dihentikan oleh Alcaraz.
Dengan dominasi keduanya dalam delapan turnamen Grand Slam terakhir, Alcaraz dan Sinner kini disebut sebagai wajah baru dari persaingan utama di tenis pria pasca-era Djokovic, Nadal, dan Federer. Persaingan mereka tak hanya menarik secara teknis, tetapi juga menghadirkan nuansa segar dalam dinamika olahraga ini.