Geger! Trump Luncurkan Mesin Pencari AI di Truth Social, Cuma Gunakan Sumber-Sumber Pro-Konservatif?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Platform media sosial milik mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Truth Social, kini resmi meluncurkan mesin pencari canggih berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinamai Truth Search AI. Mesin pencari ini digerakkan oleh teknologi dari startup AI populer Perplexity, yang menjanjikan pengalaman pencarian "langsung, akurat, dan transparan".
Dilansir dari TechCrunch, Truth Search AI sudah bisa digunakan di versi web, sementara versi beta untuk aplikasi iOS dan Android dikabarkan segera menyusul.
Dalam pernyataannya, Trump Media mengklaim bahwa AI ini mampu memberikan jawaban kontekstual yang didukung oleh sumber terpercaya. Tapi menariknya, perusahaan juga secara terbuka mengakui bahwa mereka tetap mengendalikan daftar sumber informasi yang diakses oleh AI tersebut.
Investigasi yang dilakukan oleh Axios menemukan fakta mengejutkan: ketika mesin pencari diuji dengan pertanyaan sensitif seperti "Apa yang terjadi pada 6 Januari 2021?" dan "Mengapa Donald Trump dimakzulkan?", hasil pencarian hanya mengutip media-media konservatif seperti FoxNews.com, The Washington Times, dan Epoch Times. Tidak ditemukan sumber dari media arus utama lainnya seperti NPR, Politico, atau Wikipedia yang justru muncul dalam versi publik Perplexity.
Perplexity, lewat juru bicaranya Jesse Dwyer, menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki kendali atas sumber yang digunakan Truth Social karena platform tersebut memakai Sonar API, sistem pencarian canggih yang bisa diatur sesuai kebutuhan pengguna, termasuk membatasi sumber informasi.
"Jika Anda menggunakan API ini untuk perusahaan atau penelitian internal, Anda juga bisa memilih sumbernya sendiri. Jadi hasilnya tergantung pada siapa yang mengatur," ujar Dwyer.
Tak hanya itu, peluncuran mesin pencari ini bertepatan dengan kebijakan eksekutif kontroversial yang baru saja ditandatangani Trump. Kebijakan ini menyasar apa yang disebutnya sebagai "AI bias"-model AI yang dianggap tidak netral secara ideologis. Trump menyebut berbagai topik seperti rasisme sistemik, kesetaraan, dan inklusi (DEI) sebagai "ideologi merusak" yang dapat "mengganggu akurasi output AI".
Meski menggunakan teknologi mutakhir dari Perplexity, kontrol ketat atas sumber informasi memunculkan tanda tanya besar: apakah ini inovasi teknologi atau sekadar alat propaganda?
CEO Trump Media, Devin Nunes, memastikan bahwa fitur pencarian ini akan terus dikembangkan berdasarkan masukan pengguna. "Kami tengah mengimplementasikan berbagai peningkatan tambahan," ujarnya.
Sementara itu, Chief Business Officer Perplexity, Dmitry Shevelenko, tetap menekankan bahwa teknologi mereka mengutamakan transparansi sumber dan akurasi.
Truth Search AI hadir di tengah panasnya persaingan industri AI, terutama setelah OpenAI, Anthropic, dan Google secara resmi diizinkan menjual layanan AI mereka ke lembaga federal AS. Bahkan, OpenAI berhasil mengamankan kesepakatan besar, yaknimenjual ChatGPT Enterprise ke pemerintah hanya seharga 1 dolar per tahun.