Diversifikasi Pasar Bagus, Tapi RI Jangan Sampai jadi Korban Barang Impor
JAKARTA - Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa mendukung upaya pemerintah yang gencar memperluas pasar, dalam situasi ekonomi dan perdagangan global yang tidak menentu.
"Diversifikasi ke negara-negara di Amerika Latin seperti Peru diharapkan dapat mendorong peningkatan kerja sama yang setara dan saling menguntungkan kedua pihak," katanya, Kamis (7/8) menanggapi rencana Indonesia menandatangani kerjasama ekonomi dengan Eurasia dan Kanada.
Dia pun menekankan agar diversifikasi pasar yang dilakukan oleh pemerintah harus mengutamakan kepentingan nasional. "Jangan sampai karena keterbukaan pasar kepentingan nasional jadi korban karena barang impor. Hubungan dagang harus mutualistis atau saling menguntungkan," tegas Awan.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan Indonesia dan Peru akan menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (IP CEPA) pada 11 Agustus 2025,. "Selain dengan Peru, perjanjian kerja sama komprehensif Indonesia-Kanada (ICA CEPA) dan perjanjian perdagangan bebas Indonesia-Eurasia (I-EAEU FTA) ditargetkan dapat selesai akhir tahun," katanya, Kamis (7/8).
Menurut menteri, perjanjian kerja sama komprehensif Indonesia-Uni Eropa pun akan ditandatangani September mendatang. "Dengan Peru tanggal 11 (Agustus) akan kita tanda tangani. Jadi, kita cepat ini, teman-teman (delegasi Indonesia) sebenarnya masih di Peru. Karena Presiden Peru (Dina Boluarte) juga mau ke sini, tanggal 11 (Agustus), jadi kebetulan perjanjiannya sudah selesai," kata Mendag.
Sedangkan perjanjian perdagangan bebas dengan Kanada dan Eurasia ditargetkan dapat selesai akhir tahun. Untuk perjanjian kerja sama komprehensif Indonesia-Uni Eropa pun akan ditandatangani pada September mendatang.
Penyelesaian IEU CEPA sudah sampai pada tahap akhir. Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan dan pertukaran surat (exchange of letters) antara Pemerintah Indonesia dan Komisi Eropa sebagai bentuk kesepakatan politik tingkat tinggi untuk mendorong percepatan finalisasi perundingan IEU CEPA.
Menurut Budi, Indonesia terus mendorong agar perjanjian dagang dengan negara-negara lain dapat diselesaikan hingga akhir tahun.
"Kemudian Eurasia tahun ini bisa ditandatangani. Jadi tahun ini banyak perjanjian dagang yang bisa kita selesaikan, kita tanda tangani. Dengan harapan, pasar kita, ekspor kita semakin besar, semakin meningkat ke negara-negara di dunia," katanya.
Menanggapi hal itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, semakin banyak kerja sama perdagangan bebas yang dilakukan, maka akan didapatkan beberapa manfaat. Sebab, harga barang ekspor ke negara tujuan akan semakin kompetitif, karena tidak ada biaya tarifnya.
Manfaat lainnya lagi ialah, pasar ekspor akan semakin terdiversifikasi, sehingga tidak menimbulkan kebergantungan ekspor terhadap suatu negara.
Namun demikian tantangannya adalah keberlanjutan ekspor yang berkaitan dengan ketersediaan barang ekspor. "Harga barang ekspor yang kompetitif juga menjadi tantangan dalam peningkatan ekspor,"tambah Suhartoko.
Selain itu, dengan perjanjian perdagangan bebas. Industri dalam negeri juga harus dipersiapkan untuk lebih efisien dan produknya berkualitas untuk menghadapi persaingan dengan barang impor.