Heboh! Dokter Ini Bilang Penderita Buta Warna Gak Layak Jadi Dokter, Ferry Irwandi Murka: Ini Diskriminatif dan Ngawur!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, medsos lagi ramai banget nih gegara pernyataan seorang dokter di TikTok yang bikin banyak orang naik darah-termasuk Ferry Irwandi. Bayangin aja, si dokter ini bilang kalau orang buta warna, baik parsial apalagi total, gak bisa dan gak pantas jadi dokter. Ferry pun langsung bereaksi keras dan menyebut ini sebagai bentuk diskriminasi terhadap penyandang buta warna.
Pernyataan kontroversial itu datang dari akun TikTok @nicola.tanada. Dalam videonya, Nicole yang juga seorang dokter menjelaskan bahwa profesi dokter sangat bergantung pada kemampuan visual-terutama untuk membedakan warna. Ia menyebut, diagnosis seringkali dilakukan hanya dari melihat warna kulit pasien. Belum lagi saat menghadapi indikator asam dan basa yang warnanya merah dan biru.
"Jadi dokter harus bisa mendiagnosis, kadang hanya dari warna, misal dari kulit... untuk mendiagnosis kulit perlu lihat warna, entah merah, pink, atau putih," ujarnya. Ia juga bilang, "Asam itu merah, basa itu biru. Kalau kalian gak bisa bedain merah dan biru, ya gimana dong?"
Sontak, pernyataan itu langsung dibantah keras oleh Ferry Irwandi. Tokoh yang sering vokal membahas isu politik dan sosial ini gak terima penyandang buta warna dianggap gak layak jadi dokter. Ia menyebut bahwa pendapat Nicole ngawur dan menunjukkan miskonsepsi fatal soal kondisi buta warna.
"Gak ada itu buta warna parsial yang gak bisa bedain merah dan biru. Kalau gak bisa sama sekali, itu namanya buta warna total, dan jumlahnya sangat kecil, hampir gak ada," kata Ferry dalam video balasannya, di akun Tiktok pribadinya @irwandiferry.
Lebih lanjut, Ferry menyebut bahwa masalah utama dunia kesehatan Indonesia bukan soal siapa yang bisa lihat warna, tapi soal inkompetensi. Dan menurutnya, ucapan Nicole adalah contoh nyata dari ketidaktahuan itu-ironisnya, justru datang dari orang yang punya titel dokter.
"Masalah kesehatan di Indonesia adalah inkompetensi, dan ini buktinya. Betapa kelirunya dia mendefinisikan soal buta warna, dan bagaimana eksperiens penderita buta warna. Dan ini datang dari seorang dokter? Gila!" tegasnya.
Gak main-main, Ferry bahkan menantang Nicole untuk debat terbuka-entah lewat podcast, forum publik, atau bahkan jalur hukum. Buat dia, ini bukan sekadar opini, tapi pernyataan yang bisa merusak masa depan banyak orang.
"Setengah profesi di Indonesia mensyaratkan tes buta warna. Artinya, setengah mimpi anak-anak muda yang punya kondisi ini bisa langsung gugur" ujarnya.
"Coba situ cari di luar negri seperti Singapur atau bahkan Amerika Serikat sekalipun ada kebijakan seperti itu nggak?" ujarnya.
Karena makin viral, tim Genvoice pun coba cari tahu lebih jauh soal siapa sebenarnya Nicola Tanada. Berdasarkan data yang tercantum di laman PDDIKTI, Nicole tercatat sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, tempat ia mengampu pendidikan dokter dan profesi dokternya.
Gen, menurut kamu gimana? Wajar gak sih kalau kondisi buta warna jadi penghalang buat meraih profesi tertentu? Atau ini justru bentuk diskriminasi yang dibungkus dalih medis?