Mbappe Sebagai Diktator Bukan Lelucon Belaka, Xabi Alonso Bongkar Ketegangan di Real Madrid

Genvoice.id | 08 Apr 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pernyataan mengejutkan datang dari legenda Real Madrid sekaligus pelatih top Eropa, Xabi Alonso. Ia secara terbuka mengkritik perilaku Kylian Mbappe yang disebutnya telah mengganggu keseimbangan internal tim sejak bergabung ke klub raksasa Spanyol tersebut.

Dalam komentarnya, Alonso menilai banyak pihak terlalu fokus pada performa individu Mbappe di lapangan, tanpa melihat dampak yang terjadi di balik layar. Menurutnya, kehadiran sang bintang perlahan mengubah identitas tim yang selama ini dikenal mengutamakan kolektivitas.

Ia menggambarkan situasi di ruang ganti tidak lagi sehat. Atmosfer tim, yang biasanya dibangun atas kerja sama dan rasa kebersamaan, disebut mulai terpusat pada satu sosok saja. Hal ini dinilai menciptakan tekanan yang tidak hanya terasa secara taktik, tetapi juga emosional bagi para pemain lain.

Sebagai mantan pemain yang pernah membawa Real Madrid meraih trofi Liga Champions UEFA, Alonso menegaskan bahwa tidak ada individu yang lebih besar dari klub. Ia bahkan menyebut sikap Mbappe menyerupai figur dominan yang berpotensi merusak harmoni tim.

Menurut Alonso, ketika satu pemain mulai mengambil kendali berlebihan di ruang ganti, efeknya akan terasa langsung di lapangan. Alih-alih memperkuat tim, kondisi tersebut justru berisiko menciptakan konflik internal yang berujung pada penurunan performa.

Tidak hanya menyoroti situasi di level klub, Alonso juga memberi peringatan terkait dampaknya bagi Timnas Prancis. Ia menilai pola sikap serupa bisa menjadi ancaman serius jika terbawa ke turnamen besar seperti Piala Dunia.

Alonso menilai, tim dengan ketergantungan berlebihan pada satu pemain akan rentan runtuh di momen krusial. Tekanan tinggi di kompetisi internasional membutuhkan soliditas tim, bukan dominasi individu.

Pernyataan blak-blakan ini langsung memicu perbincangan luas di kalangan pecinta sepak bola. Kritik tersebut membuka kembali diskusi soal dinamika kepemimpinan di Real Madrid, sekaligus menyoroti bagaimana tim nasional Prancis harus mengelola ego para pemain bintangnya demi menjaga keseimbangan tim.