Fenomena Downgrade Makin Nyata, Warga Rela Turunkan Gengsi demi Keuangan Aman

Genvoice.id | 07 Oct 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena downgrade gaya hidup mulai banyak dilakukan masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga dan terbatasnya ruang keuangan. Warga tidak sepenuhnya berhenti memenuhi kebutuhan, tetapi mulai memilih barang dan aktivitas yang lebih terjangkau selama fungsi utamanya tetap terpenuhi.

Perubahan tersebut terlihat dari keputusan sejumlah keluarga untuk mengganti kendaraan, mengurangi makan di luar, membatasi belanja, hingga menunda aktivitas rekreasi. Bagi mereka, langkah ini bukan selalu karena kehilangan penghasilan, melainkan karena pendapatan yang ada harus dibagi untuk kebutuhan yang semakin banyak.

Mobil Diganti Motor, Pengeluaran Mulai Ditekan

Salah satu warga Jakarta Timur, Tartika, 31 tahun, memilih mengganti mobil Honda milik keluarganya dengan sepeda motor Honda Beat Street. Keputusan tersebut diambil bersama suaminya setelah kebutuhan anak dan rumah tangga semakin bertambah sehingga pengeluaran kendaraan dinilai perlu ditekan.

Tartika masih bekerja sebagai agen asuransi dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp6,7 juta per bulan, sedangkan suaminya bekerja sebagai karyawan swasta dengan penghasilan sekitar Rp7,2 juta per bulan. Keduanya memiliki dua anak laki-laki berusia 11 dan 7 tahun sehingga kebutuhan pendidikan dan rumah tangga menjadi pertimbangan utama.

"Dulu mungkin kami masih merasa bisa punya mobil karena kebutuhan belum sebanyak sekarang. Sekarang anak-anak sudah besar, kebutuhan sekolah juga terus jalan, kebutuhan rumah tangga juga banyak," kata Tartika.

Menurut Tartika, keputusan tersebut bukan berarti keluarganya sama sekali tidak mampu mempertahankan mobil. Namun, biaya kendaraan membuat ruang keuangan untuk memenuhi kebutuhan lain menjadi lebih sempit sehingga sepeda motor dipilih untuk aktivitas sehari-hari.

Mobil Impian Turun Kelas

Pengalaman serupa dialami Wulan, 29 tahun, warga Bogor yang bekerja sebagai host live freelance. Setelah pendapatan dirinya dan suami menurun, keluarga tersebut mulai menyesuaikan gaya hidup demi memprioritaskan pembayaran KPR serta kebutuhan tiga anak.

Wulan kemudian mengganti Honda HR-V yang telah digunakan selama tiga tahun dengan Daihatsu Ayla. Sebelumnya, cicilan Honda HR-V mencapai sekitar Rp6,5 juta per bulan dengan pajak sekitar Rp5,9 juta per tahun, sedangkan mobil pengganti memiliki cicilan sekitar Rp3 juta per bulan dan pajak sekitar Rp2,5 juta per tahun.

"Karena mobil lama saya itu lumayan juga cicilannya dan pajaknya, jadi kami sepakat untuk mengganti mobil yang lebih terjangkau," ujar Wulan.

Penyesuaian tidak berhenti pada kendaraan karena keluarga Wulan juga mengurangi kebiasaan pergi ke mal dan makan di luar saat libur. Mereka bahkan menghentikan kebiasaan bepergian ke luar kota saat tahun baru untuk mengurangi pengeluaran.

Downgrade Bukan Sekadar Berhenti Belanja

Sosiolog Universitas Nasional Sigit Rochadi menilai downgrade merupakan salah satu strategi penyesuaian masyarakat, khususnya kelompok yang sebelumnya terbiasa dengan pola konsumsi kelas menengah. Masyarakat dapat mempertahankan pola kehidupan yang dianggap sesuai dengan statusnya dengan memilih barang atau aktivitas yang lebih murah.

"Downgrade merupakan adjustment strategy bagi kelas menengah untuk mempertahankan status sosial dengan menurunkan kualitas barang yang dikonsumsi," kata Sigit.

Menurutnya, pola konsumsi seperti makan di restoran, berbelanja di mal, minum kopi di kafe, berlibur, menonton konser, hingga menggunakan mobil telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat kelas menengah. Ketika pendapatan riil tertekan, konsumsi tersebut tidak selalu dihentikan sepenuhnya, tetapi dapat dialihkan ke pilihan yang membutuhkan biaya lebih rendah.

Kebutuhan Keluarga Jadi Prioritas

Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira menjelaskan bahwa tekanan ekonomi juga berkaitan dengan semakin besarnya porsi pendapatan yang terserap untuk kebutuhan tetap dan semi-tetap. Pengeluaran seperti tempat tinggal, transportasi, pendidikan, kesehatan, listrik, internet, cicilan, asuransi, serta berbagai tagihan rutin membuat ruang untuk hiburan dan belanja menjadi lebih terbatas.

"Yang menentukan rasa sejahtera bukan hanya besarnya pendapatan, melainkan juga selisih antara pendapatan dan standar hidup yang dianggap layak," kata Adrian.

Kondisi tersebut banyak dirasakan masyarakat berpenghasilan menengah yang masih memiliki pemasukan, tetapi harus menghadapi semakin banyak kebutuhan. Setelah menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau membantu orangtua, pendapatan yang sebelumnya cukup untuk kebutuhan sekaligus gaya hidup akhirnya harus dialokasikan kembali.

Karena itu, masyarakat mulai memilah pengeluaran berdasarkan tingkat kepentingannya. Kebutuhan pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan cicilan dapat ditempatkan lebih tinggi, sementara makan di luar, liburan, belanja, atau hiburan menjadi pos yang lebih mudah dikurangi.

Pengeluaran Warga Jakarta Terus Meningkat

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita penduduk DKI Jakarta berdasarkan Susenas Maret 2025 mencapai Rp2.962.412 per bulan. Angka tersebut terdiri dari pengeluaran makanan sebesar Rp1.153.404 dan pengeluaran bukan makanan sebesar Rp1.809.008 per kapita per bulan.

Pada kelompok makanan, pengeluaran terbesar berasal dari makanan dan minuman jadi yang mencapai Rp503.469 per kapita per bulan. Sementara untuk kelompok bukan makanan, pengeluaran terbesar berada pada kebutuhan perumahan dan fasilitas rumah tangga yang mencapai Rp956.351 per kapita per bulan.

Jika dibandingkan dengan 2024, rata-rata pengeluaran per kapita Jakarta meningkat dari Rp2.794.485 menjadi Rp2.962.412 pada 2025. Secara nasional, rata-rata pengeluaran per kapita juga naik dari Rp1.500.556 pada 2024 menjadi Rp1.569.088 pada 2025.

Angka tersebut tidak secara langsung menunjukkan seluruh warga Jakarta melakukan downgrade gaya hidup. Namun, data itu menggambarkan besarnya kebutuhan pengeluaran rumah tangga yang harus dialokasikan masyarakat untuk makanan maupun kebutuhan nonmakanan.

Pada akhirnya, downgrade gaya hidup tidak selalu berarti seseorang menyerah terhadap keinginan atau standar hidup sebelumnya. Bagi sebagian masyarakat, langkah tersebut justru menjadi cara untuk menjaga kondisi keuangan dengan memilih sesuatu yang lebih murah tanpa kehilangan fungsi utamanya.