Tujuh pemain yang dimaksud adalah Gabriel Felipe Arrocha, Facundo Tomás Garcés, Rodrigo Julián Holgado, Imanol Javier Machuca, João Vitor Brandão Figueiredo, Jon Irazábal Iraurgui, dan Hector Alejandro Hevel Serrano. Berdasarkan hasil investigasi, tidak satu pun dari kakek atau nenek mereka yang lahir di Malaysia seperti yang tercantum dalam dokumen naturalisasi.
Sebaliknya, FIFA menemukan bahwa asal-usul keluarga para pemain tersebut justru berasal dari negara lain seperti Argentina, Spanyol, Brasil, dan Belanda. Salah satu contoh kasus manipulasi ditemukan pada data kakek Facundo Garcés, pemain yang kini membela klub Spanyol Alaves. Dokumen yang diajukan ke FIFA menyebutkan bahwa sang kakek, Carlos Rogelio Fernandez, lahir di Penang, Malaysia. Namun, hasil verifikasi menunjukkan bahwa Fernandez sebenarnya lahir di Villa Maria Selva, Santa Fe de la Cruz, Argentina.
Kecurangan serupa juga terjadi pada enam pemain lainnya. Semua data kelahiran keluarga mereka diubah agar seolah memiliki hubungan genealogis dengan Malaysia. Praktik ini dilakukan untuk mempercepat proses naturalisasi dan memungkinkan mereka membela Timnas Malaysia di ajang internasional.
Atas pelanggaran serius ini, Komite Disiplin FIFA menjatuhkan sanksi tegas kepada para pemain dan FAM. Ketujuh pemain terbukti melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA (FDC) terkait pemalsuan dan penggunaan dokumen palsu. Mereka dilarang berpartisipasi dalam kegiatan sepak bola apa pun selama 12 bulan, terhitung sejak 26 September 2025, serta dikenai denda masing-masing sebesar CHF 2.000 atau sekitar Rp41,8 juta.
Sementara itu, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) juga turut dijatuhi hukuman berat berupa denda sebesar CHF 350.000 atau sekitar Rp7,3 miliar. FIFA menegaskan bahwa sanksi ini menjadi peringatan keras bagi federasi mana pun yang mencoba memanipulasi dokumen demi keuntungan kompetitif.
Kasus ini menimbulkan sorotan tajam di dunia sepak bola Asia, terutama karena Malaysia tengah gencar memperkuat tim nasionalnya lewat program naturalisasi pemain asing. Dengan terungkapnya pemalsuan ini, langkah FAM dalam membangun skuad kompetitif kini justru berbalik menjadi skandal besar yang mencoreng reputasi sepak bola mereka di mata dunia.