SO2 Anak Krakatau Ramai Dipantau, BMKG Jelaskan Bahaya yang Perlu Diwaspadai
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebaran gas sulfur dioksida atau SO2 yang dilepaskan Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat setelah sejumlah peta atmosfer beredar di media sosial. Dalam unggahan tersebut, terlihat area berwarna merah pekat yang dinarasikan sebagai sebaran SO2 dari erupsi Anak Krakatau hingga wilayah Jabodetabek dan Banten.
Informasi yang beredar juga menyebutkan bahwa arah angin menuju timur laut membawa emisi vulkanik tersebut hingga ke wilayah Jawa Tengah. Kondisi ini kemudian memunculkan kekhawatiran masyarakat mengenai keamanan beraktivitas di luar ruangan dan efektivitas penggunaan masker biasa.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa tampilan sebaran SO2 pada peta atmosfer perlu dipahami berdasarkan proses ilmiah yang terjadi setelah gas tersebut berada di udara.
Apa Itu Gas SO2?
Sulfur dioksida atau SO2 merupakan salah satu jenis gas dalam kelompok oksida sulfur (SOx). Berdasarkan penjelasan BMKG, SO2 memiliki karakteristik tidak berwarna, berbau, serta mudah larut dalam air.
Gas tersebut dapat terbentuk melalui pembakaran material yang mengandung sulfur. Kandungan sulfur antara lain terdapat pada minyak mentah, batu bara, serta sejumlah bijih logam seperti aluminium, tembaga, seng, timbal, dan besi.
Aktivitas manusia, khususnya pembakaran bahan bakar fosil, menjadi salah satu sumber SO2. Namun, gas ini juga dapat dilepaskan secara alami melalui aktivitas gunung api.
Ketika gunung api mengalami erupsi, material yang keluar bukan hanya berupa lava dan abu vulkanik. Aktivitas tersebut juga dapat melepaskan berbagai jenis gas ke atmosfer, termasuk sulfur dioksida.
Sebaran SO2 di Peta Tidak Otomatis Berarti Bahaya di Permukaan
Di tengah ramainya informasi mengenai SO2 dari Gunung Anak Krakatau, BMKG memberikan penjelasan mengenai citra satelit yang digunakan untuk memantau keberadaan gas tersebut di atmosfer.
BMKG menegaskan bahwa luas wilayah yang terlihat pada peta atmosfer tidak bisa langsung digunakan untuk menentukan tingkat bahaya yang dirasakan masyarakat di permukaan.
"Luasnya sebaran di peta atmosfer tidak sama dengan tingkat bahaya yang benar-benar dirasakan warga di permukaan tanah," tulis akun resmi BMKG, @infobmkg, di Threads, Senin (7/9/2026).
Menurut BMKG, SO2 yang berada di atmosfer selama berjam-jam dan terbawa angin hingga ratusan kilometer dapat mengalami perubahan secara kimiawi. Gas tersebut dapat bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer sehingga membentuk partikel halus yang dikenal sebagai aerosol sulfat.
Artinya, material yang mencapai wilayah yang jauh dari lokasi erupsi tidak selalu memiliki karakteristik yang sama dengan SO2 dalam kondisi segar dan berkonsentrasi tinggi di sekitar kawah.
Setelah mengalami perubahan tersebut, material di atmosfer dapat berada dalam bentuk partikel halus yang kemudian bercampur dengan abu vulkanik. BMKG menyebut material yang lebih dominan mencapai permukaan dan dirasakan masyarakat di wilayah Jabodetabek saat ini adalah abu vulkanik.
Abu tersebut dapat bercampur dengan sebagian kecil partikel yang berasal dari perubahan gas SO2. Kondisi ini berbeda dengan paparan gas SO2 murni dalam konsentrasi tinggi yang berada di sekitar sumber erupsi.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik dan partikel di udara.
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker dan kacamata pelindung ketika beraktivitas di luar ruangan. Langkah tersebut diperlukan untuk melindungi saluran pernapasan dan mata dari paparan abu vulkanik.
Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi apabila terjadi hujan abu atau kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
Untuk mengetahui kondisi udara secara lebih akurat, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan warna pada peta satelit kolom atmosfer. Angka kualitas udara resmi yang dikeluarkan pemerintah dapat menjadi salah satu acuan untuk menilai kondisi udara di wilayah masing-masing.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi, termasuk BMKG, PVMBG-Badan Geologi, MAGMA Indonesia, serta instansi terkait lainnya.
Informasi mengenai sebaran gas maupun dampak erupsi yang belum terverifikasi sebaiknya tidak langsung disebarluaskan agar tidak menimbulkan kepanikan atau kesalahpahaman di tengah masyarakat.