Apakah Lahar Dingin Itu Dingin? Simak Penjelasan Ilmiah, Karakteristik, dan Bahaya Sekundernya

Genvoice.id | 07 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Istilah lahar dingin gunung berapi kerap memicu rasa penasaran masyarakat, terutama ketika membandingkannya dengan lahar panas atau lava pijar hasil erupsi. Meski dinamai "dingin", aliran material vulkanik atau volcanic mudflow ini sebenarnya tidak memiliki suhu sedingin es, melainkan merujuk pada kondisi material erupsi yang telah bercampur dengan air hujan.

Pahami penjelasan ilmiah mengenai fenomena lahar dingin serta potensi ancaman bahaya sekundernya bagi kawasan di sekitar lereng gunung.

Pengertian Lahar dan Cara Pembentukannya

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan US Geological Survey (USGS), lahar merupakan campuran lumpur, abu vulkanik, pasir, kerikil, serta batuan lepas yang mengalir bersama air. Dalam ilmu geologi, fenomena ini dikategorikan sebagai volcanic mudflow atau debris flow.

Lahar dapat terbentuk melalui beberapa mekanisme alami, seperti:

  • Menerjangnya aliran piroklastik yang mencairkan es atau salju di puncak gunung secara mendadak.

  • Curah hujan tinggi yang menyapu endapan material vulkanik lepas di lereng puncak.

  • Bobolnya bendungan atau danau kawah akibat tekanan endapan material letusan.

Perbedaan Lahar Panas dan Lahar Dingin

  • Lahar Panas: Terbentuk dari lava yang bercampur langsung dengan air panas atau air kawah saat proses erupsi masih berlangsung aktif.

  • Lahar Dingin: Merupakan endapan material sisa erupsi di puncak dan lereng gunung yang terbawa oleh aliran air hujan menuju hulu sungai.

Suhu lahar dingin memang telah menurun drastis dibandingkan lava cair dan tidak lagi mampu membakar benda di sekitarnya. Karakteristik fisiknya sekilas mirip banjir lumpur biasa, namun konsistensinya jauh lebih pekat dan berat seperti beton basah (wet concrete) yang bergerak dengan kecepatan serta debit aliran sangat tinggi.

Ancaman Bahaya Sekunder Pasca-Erupsi

Banyak masyarakat berasumsi bahwa ancaman bencana berakhir ketika erupsi gunung api terhenti. Padahal, menurut pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), endapan material lepas di sekitar puncak dapat bertahan hingga berbulan-bulan dan berpotensi menjadi ancaman bahaya sekunder saat memasuki musim penghujan.

Banjir lahar dingin dapat meluap melebihi kapasitas bentang sungai, menerjang pemukiman warga, merusak infrastruktur jembatan, hingga menimbulkan korban jiwa dan kerugian material yang masif jika tidak diantisipasi dengan sistem evakuasi yang memadai.

Kesimpulannya, penamaan lahar dingin merujuk pada penurunan suhu material erupsi yang bercampur air hujan, bukan berarti aliran tersebut aman untuk didekati.

Karena daya rusak dan kecepatannya yang menyerupai benturan beton basah raksasa, masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran hulu sungai gunung berapi diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi banjir lahar dingin, terutama saat curah hujan meningkat pasca-kejadian erupsi.