4 Gunung Api Erupsi Serentak, Fenomena Alam Biasa atau Saling Berkaitan?

Genvoice.id | 07 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Pada Minggu (6/9/2026), empat gunung api tercatat mengalami erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.

Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan apakah erupsi yang terjadi hampir bersamaan memiliki hubungan satu sama lain. Ahli gempa dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan dinamika tektonik global di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Empat Gunung Api Erupsi dalam Waktu Berdekatan

Daryono menyebut Indonesia berada di kawasan dengan aktivitas tektonik yang sangat kompleks sehingga banyak gunung api aktif tersebar di berbagai wilayah. Kondisi geologi tersebut membuat peningkatan aktivitas vulkanik dapat terjadi di beberapa gunung api dalam periode waktu yang berdekatan.

"Fenomena erupsi simultan pada 4 gunung api di Indonesia pada 6 September 2026, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu merupakan manifestasi dinamika tektonik global di wilayah ring of fire," ujar Daryono.

Meski terjadi hampir bersamaan, bukan berarti keempat gunung tersebut saling terhubung secara langsung. Masing-masing gunung memiliki sistem vulkanik sendiri yang dapat mengalami peningkatan tekanan hingga akhirnya mencapai kondisi kritis dan memicu erupsi.

Tidak Ada Jalur Magma yang Menghubungkan Antargunung

Secara geologi, Indonesia merupakan zona konvergensi tektonik yang menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng bumi. Beberapa di antaranya adalah Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina yang bergerak serta menunjam di bawah Lempeng Eurasia.

Kondisi tektonik tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membentuk dan mempertahankan aktivitas gunung api di Indonesia. Namun, aktivitas erupsi yang berlangsung hampir bersamaan tidak menunjukkan adanya satu saluran magma bawah tanah yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut.

Menurut Daryono, tidak terdapat mekanisme berupa "jalur pipa" atau jaringan saluran magma tunggal yang menghubungkan sistem magma Gunung Anak Krakatau, Semeru, Ili Lewotolok, dan Ibu. Erupsi lebih berkaitan dengan kondisi masing-masing sistem vulkanik yang telah mengalami akumulasi tekanan fluida dan magma hingga mencapai tahap kritis.

"Perbedaan ketinggian kolom abu dari masing-masing erupsi mencerminkan variasi dinamika erupsi, tingkat viskositas magma, serta kandungan gas vulkanik," jelas Daryono.

Karakter Erupsi Setiap Gunung Berbeda

Perbedaan sistem vulkanik membuat karakter erupsi pada masing-masing gunung tidak selalu sama. Kondisi tersebut juga menentukan seberapa tinggi kolom erupsi terbentuk dan sejauh mana material vulkanik dapat terbawa dari kawasan gunung api.

Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu yang memiliki dampak sebaran cukup luas karena material abu vulkaniknya terbawa angin menuju sejumlah wilayah. Abu tersebut bahkan terpantau mencapai Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Sebaran tersebut menunjukkan material erupsi Anak Krakatau dapat mencapai lapisan troposfer dan kemudian terbawa oleh sirkulasi angin regional. Kondisi atmosfer dan arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang berpotensi terdampak abu vulkanik.

Tinggi Kolom Abu Dipengaruhi Tekanan Gas

Sementara itu, erupsi Gunung Semeru tercatat menghasilkan kolom abu sekitar 1.000 meter. Gunung Ili Lewotolok memiliki kolom abu sekitar 600 meter, sedangkan Gunung Ibu menghasilkan kolom abu sekitar 400 meter.

Perbedaan ketinggian tersebut menunjukkan adanya variasi kekuatan erupsi pada masing-masing gunung. Daryono menjelaskan bahwa tinggi kolom abu dipengaruhi tekanan gas di dalam saluran magma atau conduit serta gaya apung termal ketika kolom erupsi berinteraksi dengan udara di sekitarnya.

Komposisi magma juga berperan dalam menentukan karakter letusan dan penyebaran material vulkanik. Kandungan silika (SiO₂) serta gas atau volatil seperti H₂O, CO₂, dan SO₂ dapat memengaruhi tingkat eksplosivitas erupsi.

Magma Kental Cenderung Memicu Erupsi Eksplosif

Magma dengan tingkat viskositas tinggi dan kandungan gas yang melimpah cenderung menghasilkan erupsi yang lebih eksplosif. Dalam kondisi tersebut, magma dapat terpecah menjadi partikel abu berukuran sangat halus yang lebih mudah terbawa angin dalam jarak jauh.

Sebaliknya, gunung api dengan magma yang lebih cair atau memiliki sistem saluran terbuka atau open-vent system cenderung melepaskan tekanan gas secara berulang. Pola tersebut dapat menghasilkan kolom erupsi dengan skala menengah serta sebaran material yang relatif lebih terbatas di sekitar kawah.

Dengan demikian, erupsi empat gunung api pada 6 September 2026 tidak dapat diartikan sebagai tanda bahwa satu gunung memicu erupsi gunung lainnya. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari dinamika vulkanik dan tektonik yang berlangsung di kawasan Indonesia sebagai bagian dari Cincin Api Pasifik.