Jika Gagal Lolos, Timnas U-23 Indonesia Pecahkan Rekor Terburuk Usai Prestasi Shin Tae-yong
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 kini memasuki fase paling menentukan. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini menjadi tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya melibatkan 48 tim. Format baru ini memberikan peluang lebih luas bagi negara-negara dari berbagai zona konfederasi untuk ambil bagian dalam ajang sepak bola terbesar sejagat.
Sejauh ini, hingga awal September 2025, tercatat 17 negara telah mengamankan tiket ke putaran final. Tiga di antaranya adalah tuan rumah bersama, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang lolos otomatis tanpa menjalani kualifikasi. Sisanya lolos lewat perjuangan panjang dan intens di zona masing-masing.
Dari zona Asia, enam negara telah memastikan tempat di Piala Dunia 2026. Australia, Iran, Jepang, Yordania, Korea Selatan, dan Uzbekistan menjadi wakil-wakil pertama dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang lolos. Keberhasilan Yordania dan Uzbekistan menjadi catatan tersendiri, karena keduanya akan tampil sebagai debutan di panggung Piala Dunia. Dua slot langsung lainnya akan ditentukan melalui putaran keempat dan kelima, di mana negara-negara seperti Indonesia, Arab Saudi, Qatar, dan Irak masih berada dalam perburuan ketat.
Sementara itu, dari Amerika Selatan, enam tim unggulan telah mengamankan tiket mereka: Argentina, Brasil, Ekuador, Kolombia, Paraguay, dan Uruguay. Jalur CONMEBOL memang dikenal sebagai salah satu kualifikasi paling ketat di dunia, karena semua tim saling bertemu dalam sistem kompetisi penuh. Venezuela saat ini memimpin klasemen untuk slot playoff antarkonfederasi. Argentina sebagai juara bertahan masih mempertahankan performa solid, terlebih Lionel Messi masih memperkuat skuad Tango.
Zona Oseania untuk pertama kalinya memiliki satu slot otomatis. Selandia Baru berhasil memanfaatkannya, dan New Caledonia berpeluang lolos lewat jalur playoff. Di zona Afrika, Maroko menjadi negara pertama dari CAF yang memastikan lolos ke putaran final. Tim ini sebelumnya mencetak sejarah di Piala Dunia 2022 sebagai semifinalis pertama dari Afrika. Sementara Mesir, Afrika Selatan, dan Senegal masih bersaing ketat untuk merebut delapan tiket tersisa.
Di zona Eropa, belum ada satu pun tim yang lolos hingga awal September 2025. Fase grup baru berjalan dan akan berakhir pada November 2025. UEFA memiliki total 16 slot, dan playoff akan digelar pada Maret 2026. Negara-negara kuat seperti Prancis, Jerman, Spanyol, dan Inggris diprediksi akan mendominasi, tetapi format baru yang turut melibatkan Nations League membuat jalur kualifikasi menjadi lebih kompleks dan tidak bisa ditebak.
Sementara di CONCACAF, selain tiga tuan rumah, tersedia tiga slot langsung tambahan serta dua tempat untuk playoff. Tim seperti Jamaika, Panama, dan Kosta Rika saat ini tampil sebagai kuda hitam dan masih berpeluang untuk merebut tiket ke Amerika Utara tahun depan.
Dengan semakin banyaknya negara yang telah lolos dan masih banyak slot tersisa, Piala Dunia 2026 menjanjikan keberagaman kontestan dan potensi kejutan lebih besar. Turnamen akan dimulai pada 11 Juni 2026 di Estadio Azteca, Meksiko, dan ditutup dengan partai final pada 19 Juli 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Pengundian grup akan dilangsungkan pada Desember 2025 di Washington, D.C.
Namun di tengah optimisme Timnas senior yang masih berpeluang ke putaran final Piala Dunia, nasib Timnas Indonesia U-23 justru berada di ujung tanduk. Tim asuhan Gerald Vanenburg menghadapi ancaman gagal lolos ke Piala Asia U-23 2026 yang akan digelar di Arab Saudi.
Kemenangan besar atas Makau U-23 memang menjadi pelipur lara, tetapi hasil imbang melawan Laos U-23 membuat posisi Indonesia semakin sulit. Jika hanya meraih hasil imbang melawan Korea Selatan U-23 pada laga terakhir Grup J, Indonesia akan mengoleksi lima poin, jumlah yang tak cukup untuk bersaing dengan runner-up terbaik dari grup lain yang sudah mengantongi enam poin, seperti Iran, China, Turkmenistan, dan Yaman.
Situasi ini membuat duel melawan Korea Selatan U-23 menjadi penentuan mutlak. Vanenburg dituntut untuk meramu strategi paling jitu dan efektif agar para pemain mampu tampil militan serta mengalahkan tim yang secara kualitas berada di atas kertas. Selain itu, PSSI sebagai federasi juga diminta untuk terlibat aktif dalam memotivasi para pemain, baik secara teknis maupun non-teknis.
Pengamat sepak bola nasional, Gusnul Yakin, menilai kegagalan lolos ke Piala Asia U-23 akan menjadi bentuk kemunduran prestasi, mengingat Timnas Indonesia U-23 pada edisi sebelumnya sukses mencapai semifinal dan hampir lolos ke Olimpiade Paris 2024 di bawah arahan Shin Tae-yong.
Menurutnya, skuad muda Garuda sebenarnya memiliki potensi besar. Namun gaya bermain yang cerdas dan agresif seperti saat melawan Makau tidak terlihat kala menghadapi Laos. Kini semua sorotan tertuju pada Vanenburg, yang harus membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih berpengalaman dalam laga hidup-mati melawan Korea Selatan.
Meski peluang secara matematis belum tertutup sepenuhnya, misi Indonesia untuk kembali tampil di Piala Asia U-23 tahun depan kini bergantung pada satu hal: menang melawan Korea Selatan.