Mengenal Sejarah Hari Kartini Beserta Bukunya, "Habis Gelap Terbitlah Terang"

Genvoice.id | 07 Apr 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan, terutama di bidang pendidikan.

Peringatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya kesetaraan dan akses pendidikan bagi seluruh perempuan di Indonesia.

Kartini lahir pada tahun 1879 di Jepara dari keluarga bangsawan Jawa. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, merupakan seorang bupati, sementara ibunya, Mas Ayu Ngasirah, berasal dari keluarga religius. Meski terlahir di lingkungan priyayi yang memiliki akses pendidikan, Kartini tetap menghadapi keterbatasan akibat kuatnya budaya patriarki pada masa penjajahan Belanda.

Kartini sempat mengenyam pendidikan di sekolah dasar, namun harus berhenti pada usia 12 tahun. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi tidak terwujud karena norma sosial yang membatasi perempuan. Meski demikian, semangat belajarnya tidak pernah padam. Ia tetap memperluas wawasan melalui membaca buku-buku Eropa, termasuk karya Louis Couperus berjudul De Stille Kracht, serta aktif berkirim surat dengan sahabat-sahabatnya di Belanda seperti Rosa Abendanon.

Dari aktivitas tersebut, muncul pemikiran kritis Kartini tentang pentingnya pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan. Setelah menikah dengan Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat pada tahun 1903, ia mendirikan sekolah bagi perempuan pribumi sebagai wujud nyata perjuangannya. Namun, perjuangan itu terhenti ketika Kartini wafat pada 17 September 1904.

Pemikiran Kartini kemudian diabadikan dalam kumpulan surat yang dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini menjadi sumber inspirasi bagi banyak generasi, terutama dalam memperjuangkan hak dan peran perempuan di masyarakat.

Beberapa kutipan inspiratif dari buku tersebut antara lain:

"Marilah wahai perempuan, gadis. Bangkitlah, marilah kita berjabatan tangan dan bersama-sama mengubah keadaan yang membuat derita ini."

"Anak perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan serta pandangannya telah diperluas tidak akan sanggup lagi hidup dalam dunia nenek moyangnya."

"Dan bagaimanakah ibu-ibu bumiputera dapat mendidik anak-anaknya, kalau mereka sendiri tidak berpendidikan."

"Sampai kapanpun, kemajuan perempuan itu ternyata menjadi faktor penting dalam peradaban bangsa."

"Bermimpilah terus, bermimpilah terus, bermimpilah selama kamu dapat bermimpi! Apa artinya bila hidup tanpa mimpi?"

"Sekolah saja tidak cukup untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia, rumah pun harus turut mendidik."

"Ibu adalah pusat kehidupan rumah tangga. Kepada mereka dibebankan tugas besar mendidik anak-anaknya."

"Dan tidak ada usaha mendidik yang lebih baik selain daripada contoh yang baik."

Melalui pemikiran dan tulisannya, Kartini telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk memperoleh pendidikan dan hak yang setara. Hingga kini, semangatnya tetap relevan dan terus menginspirasi dalam berbagai aspek kehidupan.