5 Rekomendasi Buku Bertema Perjuangan dan Demonstrasi Mirip "Laut Bercerita", Cocok Dibaca Setelah Nonton Filmnya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Popularitas novel "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori kembali menjadi perhatian setelah adaptasi filmnya tayang di bioskop. Kisah tentang aktivisme mahasiswa, penculikan, represi politik, dan perjuangan melawan kekuasaan tersebut membuat karya ini memiliki tempat tersendiri bagi pembaca sastra Indonesia.
Bagi yang menyukai cerita dengan latar perjuangan politik dan demonstrasi, ada sejumlah novel lain yang mengangkat tema serupa. Beberapa di antaranya membahas gerakan mahasiswa, ketidakadilan sosial, kekerasan negara, hingga kehidupan masyarakat yang terdampak pergolakan politik.
Meski tidak semuanya secara khusus bercerita tentang demonstrasi, buku-buku berikut menawarkan sudut pandang berbeda mengenai perjuangan dan perlawanan terhadap kekuasaan.
Berikut lima rekomendasi buku bertema perjuangan dan demonstrasi yang bisa menjadi bacaan setelah "Laut Bercerita".
1. "Pulang" - Leila S. Chudori

"Pulang" merupakan novel karya Leila S. Chudori yang memiliki kedekatan tema dengan "Laut Bercerita". Buku ini mengisahkan Dimas Suryo, seorang jurnalis Indonesia yang terjebak di luar negeri setelah peristiwa politik 1965 dan tidak bisa kembali ke tanah air.
Kehidupan Dimas bersama sejumlah eksil politik Indonesia di Paris menjadi salah satu bagian penting cerita. Mereka harus menjalani kehidupan jauh dari kampung halaman, sementara situasi politik di Indonesia terus memengaruhi masa depan keluarga mereka.
Novel ini juga menyinggung gerakan mahasiswa dan demonstrasi di Paris dalam menentang rezim Orde Baru. Melalui kisah lintas generasi, Leila menggambarkan bagaimana pergolakan politik dapat memengaruhi kehidupan seseorang, bahkan hingga puluhan tahun kemudian.
2. "Saman" - Ayu Utami

Novel "Saman" karya Ayu Utami mengangkat persoalan ketidakadilan sosial, penindasan, dan perjuangan masyarakat kecil menghadapi kekuasaan.
Cerita berpusat pada Wisanggeni, seorang mantan pastor yang kemudian dikenal dengan nama Saman. Ia terlibat dalam perjuangan membela masyarakat perkebunan di Sumatra yang mengalami tekanan dari pihak berkuasa.
Konflik dalam novel ini memperlihatkan ketimpangan hubungan antara masyarakat, perusahaan, dan aparat. Perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi salah satu tema utama yang dibangun melalui perjalanan para tokohnya.
Berbeda dari "Laut Bercerita" yang banyak menyoroti aktivisme mahasiswa, "Saman" lebih menekankan perjuangan masyarakat kecil dan buruh dalam mempertahankan hak mereka.
3. "Amba" - Laksmi Pamuntjak

"Amba" merupakan novel karya Laksmi Pamuntjak yang mengambil latar pergolakan politik Indonesia pada 1965 dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
Kisahnya mengikuti Amba Kinanti dan hubungannya dengan Bhisma, seorang dokter yang kehidupannya berubah akibat situasi politik pada masa tersebut. Perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana konflik ideologi dan kekerasan politik dapat memisahkan orang-orang yang saling mencintai.
Novel ini juga membawa pembaca mengenal kehidupan tahanan politik di Pulau Buru serta pengalaman orang-orang yang harus menanggung stigma akibat peristiwa politik.
Jika "Laut Bercerita" menggambarkan penculikan dan penghilangan aktivis pada masa Orde Baru, "Amba" menghadirkan cerita tentang dampak pergolakan politik pada periode sebelumnya.
4. "Entrok" - Okky Madasari
"Entrok" karya Okky Madasari mengangkat kehidupan masyarakat kecil di bawah tekanan kekuasaan pada masa Orde Baru.
Novel ini mengikuti kehidupan dua perempuan dari generasi berbeda, Marni dan Rahayu. Keduanya memiliki pandangan hidup yang berbeda, tetapi harus menghadapi situasi sosial dan politik yang membatasi kebebasan mereka.
Melalui perjalanan kedua tokoh tersebut, Okky menggambarkan kesewenang-wenangan aparat, tekanan militer, ketimpangan sosial, dan sulitnya masyarakat kecil mendapatkan keadilan.
Perlawanan dalam "Entrok" tidak selalu diwujudkan melalui demonstrasi atau gerakan politik. Keberanian mempertahankan hak dan pilihan hidup juga menjadi bentuk perlawanan terhadap sistem yang menindas.
5. "Lelaki di Tengah Hujan" - Wenri Wanhar

"Lelaki di Tengah Hujan" karya Wenri Wanhar mengangkat tema aktivisme mahasiswa, perjuangan politik, dan represi pada masa Orde Baru.
Novel ini menghadirkan gambaran mengenai kehidupan aktivis yang berhadapan dengan situasi politik penuh tekanan. Perjuangan menyuarakan kritik terhadap pemerintah menjadi bagian penting dari cerita.
Karya ini relevan bagi pembaca yang tertarik dengan sejarah gerakan mahasiswa dan risiko yang harus dihadapi orang-orang yang berani melawan kekuasaan.
Melalui tema tersebut, pembaca diajak melihat bahwa perjuangan politik tidak hanya berkaitan dengan demonstrasi di jalanan, tetapi juga keberanian mempertahankan prinsip di tengah ancaman dan tekanan.
Kelima buku tersebut menawarkan cerita dan sudut pandang berbeda mengenai perjuangan, aktivisme, serta ketidakadilan politik di Indonesia. Bagi pembaca yang menyukai "Laut Bercerita", "Pulang" bisa menjadi pilihan pertama karena memiliki kedekatan tema dan latar sejarah.
Sementara itu, "Saman", "Amba", "Entrok", dan "Lelaki di Tengah Hujan" dapat menjadi alternatif untuk mengenal lebih jauh berbagai bentuk perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan.