11 Kota Dunia yang Terancam Tenggelam, Jakarta Masuk Daftar
JAKARTA, GENVOICE.ID - Perubahan iklim dan penurunan permukaan tanah menjadi ancaman bagi sejumlah kota di berbagai belahan dunia. Kenaikan permukaan laut yang terjadi secara bertahap, ditambah aktivitas pemompaan air tanah secara berlebihan, membuat beberapa wilayah semakin rentan terhadap banjir hingga risiko tenggelam.
World Economic Forum (WEF) pernah menyoroti sejumlah kota yang menghadapi ancaman tersebut. Beberapa di antaranya mengalami penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah, sementara kota lainnya menghadapi kenaikan permukaan laut sebagai dampak perubahan iklim.
Berdasarkan prediksi yang dikutip WEF, terdapat 11 kota yang berisiko mengalami dampak serius hingga berpotensi kehilangan sebagian wilayahnya pada akhir abad ini. Jakarta menjadi salah satu kota yang masuk dalam daftar tersebut.
Berikut 11 kota yang disebut menghadapi ancaman penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut.
1. Jakarta, Indonesia
Jakarta menghadapi ancaman penurunan muka tanah yang salah satunya dipicu oleh pemompaan air tanah secara berlebihan. Aktivitas tersebut dapat mengubah tekanan dan volume di dalam tanah sehingga permukaan tanah terus mengalami penurunan.
WEF menyebut sebagian besar wilayah Jakarta berpotensi terendam air pada 2050 jika persoalan tersebut tidak ditangani.
2. Lagos, Nigeria
Lagos menghadapi ancaman dari kombinasi kenaikan permukaan laut dan pengikisan garis pantai. Pemanasan global turut memperbesar risiko yang dihadapi kota terbesar di Nigeria tersebut.
Studi University of Plymouth pada 2012 menyebut kenaikan permukaan laut antara tiga hingga sembilan kaki dapat memberikan dampak besar terhadap aktivitas manusia di Lagos.
Pada saat yang sama, para ilmuwan memperkirakan permukaan laut global dapat mengalami kenaikan signifikan hingga akhir abad ini.
3. Houston, Texas
Sejumlah wilayah Houston mengalami penurunan tanah hingga sekitar dua inci per tahun. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut adalah pemompaan air tanah secara berlebihan.
Penurunan tanah membuat Houston semakin rentan terhadap banjir ketika terjadi badai. Kondisi tersebut terlihat saat Badai Harvey menerjang pada 2017 dan menyebabkan kerusakan pada hampir 135 ribu rumah serta membuat sekitar 30 ribu orang mengungsi.
4. Dhaka, Bangladesh
Dhaka menjadi salah satu kota yang menghadapi risiko besar akibat kenaikan permukaan laut. Bangladesh sendiri hanya berkontribusi sekitar 0,3 persen terhadap emisi perubahan iklim global, tetapi menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap dampaknya.
Kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah di kawasan pesisir diperkirakan dapat membuat sekitar 17 persen wilayah Bangladesh terendam pada 2050. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kehidupan sekitar 18 juta penduduk.
5. Venice, Italia
Venice atau Venesia telah lama menghadapi persoalan penurunan permukaan tanah dan banjir. Kota tersebut dilaporkan mengalami penurunan sekitar 0,08 inci setiap tahun.
Untuk mengurangi risiko banjir, Pemerintah Italia mulai membangun sistem MOSE pada 2003. Infrastruktur tersebut terdiri dari 78 pintu penghalang yang ditempatkan di tiga saluran air untuk melindungi Venice dari pasang air laut.
6. Virginia Beach, Virginia
Virginia Beach termasuk wilayah di Pantai Timur Amerika Serikat yang mengalami kenaikan permukaan laut relatif cepat. Kondisi tersebut diperparah oleh penurunan permukaan tanah di sejumlah kawasan.
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan permukaan laut di Virginia Beach dapat meningkat hingga hampir 12 kaki pada 2100. Kenaikan tersebut berpotensi meningkatkan risiko banjir di wilayah pesisir.
7. Bangkok, Thailand
Bangkok menjadi salah satu kota di Asia Tenggara yang menghadapi ancaman penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut.
The Guardian sebelumnya melaporkan Bangkok berpotensi menghadapi risiko tenggelam dalam beberapa tahun mendatang. Kondisi geografis kota yang berada di kawasan dataran rendah membuatnya semakin rentan terhadap banjir dan perubahan permukaan laut.
8. New Orleans, Louisiana
Sebagian wilayah New Orleans berada di bawah permukaan laut sehingga kota tersebut memiliki risiko tinggi terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut.
Studi NASA pada 2016 memperkirakan beberapa bagian New Orleans mengalami penurunan tanah hingga sekitar dua inci per tahun. Jika tren tersebut terus berlangsung, sejumlah wilayah kota dapat mengalami kondisi yang semakin parah hingga akhir abad ini.
Letaknya yang berada di kawasan delta sungai juga membuat New Orleans lebih rentan terhadap banjir dan kenaikan permukaan laut. Bahkan, beberapa bagian kota berada sekitar 15 kaki di bawah permukaan laut.
9. Rotterdam, Belanda
Rotterdam merupakan salah satu kota di Belanda yang memiliki wilayah luas di bawah permukaan laut. Menurut prediksi yang dikutip The New York Times, sekitar 90 persen wilayah Rotterdam berada di bawah permukaan laut.
Untuk menghadapi risiko banjir, Belanda mengembangkan berbagai sistem perlindungan air. Salah satunya melalui proyek "Room for the River" yang menyediakan ruang bagi air melalui kawasan penampungan, selain penggunaan pintu air berukuran besar.
10. Alexandria, Mesir
Alexandria menghadapi ancaman dari kenaikan permukaan Laut Tengah. Wilayah pesisir kota tersebut secara perlahan mengalami dampak dari perubahan permukaan laut.
Kondisi tersebut diperkirakan dapat semakin memburuk hingga 2100. Kenaikan permukaan Laut Tengah hingga sekitar dua kaki berpotensi meningkatkan risiko banjir dan hilangnya sebagian kawasan pesisir Alexandria.
11. Miami, Florida
Miami juga menjadi salah satu kota yang menghadapi ancaman kenaikan permukaan laut. Penulis lingkungan Jeff Goodell sebelumnya memperkirakan kota tersebut dapat menghadapi dampak besar akibat perubahan iklim hingga akhir abad ini.
Kenaikan permukaan laut menjadi salah satu persoalan utama karena dapat mengikis daratan dan memperbesar risiko banjir. Selain mengancam rumah dan infrastruktur, kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan kontaminasi sumber air minum di kawasan Miami.