Morfologi Gunung Anak Krakatau Berubah Pasca-Erupsi, Ahli Jelaskan Potensi Bahayanya

Genvoice.id | 06 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Peningkatan aktivitas vulkanik serta erupsi intensif yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu perubahan pada struktur morfologi gunung api tersebut.

Citra satelit terbaru dari platform pemantau Bumi, Dove dan SkySat, memperlihatkan kondisi terkini fisik tubuh gunung yang mengalami penyesuaian bentuk pasca-letusan.

Pemantauan berbasis satelit menjadi sangat krusial mengingat cuaca buruk dan tingginya intensitas abu vulkanik sempat menyulitkan pengamatan visual secara langsung di lapangan.

Perubahan Bentuk dan Kondisi Tubuh Gunung

Berdasarkan pengamatan citra satelit, bagian utama dari tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan pasca-aktivitas vulkanik intensif. Sebagian material tubuh gunung diperkirakan meluncur ke laut dan membentuk celah serta teluk kecil di sekitar area kawah.

Meski demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi terus memantau dinamika perubahan struktur fisik ini untuk mengantisipasi potensi bahaya sekunder.

Badan Geologi: Potensi Tsunami Skala Besar Minim

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi besar tahun 2018 masih relatif terbatas. Berdasarkan hasil evaluasi morfologi terkini, kondisi fisik tubuh gunung saat ini dinilai tidak memiliki volume material yang cukup besar untuk memicu keruntuhan masif yang dapat berpotensi menimbulkan tsunami.

"Penilaian tersebut berdasarkan hasil evaluasi terhadap kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi gunung api juga terus dilakukan secara intensif," jelas Lana Saria.

Ancaman Utama: Lontaran Material dan Abu Vulkanik

Meskipun potensi tsunami akibat runtuhan tubuh gunung dinilai relatif kecil, Badan Geologi mengingatkan bahwa ancaman utama saat ini datang dari bahaya primer erupsi, yaitu:

  • Lontaran material pijar di sekitar pusat aktivitas kawah (radius aman 3 kilometer).

  • Sebaran abu vulkanik tebal yang dapat mengganggu jarak pandang, kualitas udara, hingga membahayakan penerbangan.

Pihak otoritas mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk tidak mendekati kawasan Selat Sunda dalam radius aman yang telah ditetapkan serta selalu memperbarui informasi dari lembaga resmi seperti PVMBG dan Badan Geologi.