Baru Putus Cinta? Studi Ungkap Terapi dan Olahraga Bisa Bantu Pulihkan Sindrom Patah Hati

Genvoice.id | 06 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID- Sindrom patah hati ternyata bukan cuma istilah kiasan, Gen. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan nama kardiomiopati takotsubo, yaitu ketika otot jantung tiba-tiba melemah dan berubah bentuk. Biasanya, sindrom ini dipicu stres emosional atau fisik yang berat, misalnya kehilangan orang terdekat.

Dilansir dari The Guardian, pasien dengan sindrom patah hati bisa mengalami gejala mirip serangan jantung. Bahkan, mereka menghadapi risiko kematian dini dua kali lipat dibanding populasi umum.

"Sindrom takotsubo dapat menjadi kondisi menghancurkan yang dapat memengaruhi Anda pada saat yang sangat rentan jika dipicu oleh peristiwa kehidupan besar," kata Dr. Sonya Babu-Narayan, direktur klinis di British Heart Foundation, lembaga yang mendanai penelitian soal penanganan sindrom patah hati.

Hingga kini, belum ada obat khusus untuk sindrom takotsubo. Tapi kabar baiknya, uji coba klinis terbaru menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy/CBT) maupun program latihan pemulihan jantung bisa membantu memperbaiki kondisi pasien. Latihan ini meliputi aktivitas seperti berenang, bersepeda, aerobik, hingga treadmill.

Dr. David Gamble, dosen klinis kardiologi dari University of Aberdeen, mengingatkan bahwa dampak sindrom takotsubo bisa serius.

"Pasien dapat terpengaruh selama sisa hidup mereka dan bahwa kesehatan jantung jangka panjang mereka mirip dengan orang-orang yang selamat dari serangan jantung," ujarnya saat mempresentasikan riset di kongres tahunan European Society of Cardiology di Madrid.

Penelitian ini melibatkan 76 pasien dengan rata-rata usia 66 tahun, 91 persen di antaranya perempuan. Mereka dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok: terapi CBT, program olahraga, dan perawatan standar. Semua pasien tetap mendapat pengobatan medis sesuai rekomendasi ahli jantung.

Hasilnya cukup menjanjikan. Pasien yang ikut CBT mengalami peningkatan jarak jalan dari rata-rata 402 meter menjadi 458 meter dalam enam menit. Sementara kelompok olahraga mencatat peningkatan lebih signifikan, dari 457 meter menjadi 528 meter. Selain itu, konsumsi oksigen maksimum (VO2 max) naik 15 persen pada kelompok CBT dan 18 persen pada kelompok olahraga.

Temuan ini menunjukkan adanya perbaikan kesehatan jantung yang tidak ditemukan pada kelompok dengan perawatan standar.

"Orang-orang mungkin tidak terlalu terkejut bahwa program latihan fisik membantu pasien jantung, tetapi menarik bahwa studi ini juga menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif meningkatkan fungsi jantung dan kebugaran pasien," tambah Dr. Sonya.

Meski begitu, para peneliti menekankan perlunya riset lanjutan untuk mengetahui apakah metode ini bisa meningkatkan kelangsungan hidup dalam jangka panjang.

Gen, kabar ini bisa jadi harapan baru buat pasien dengan sindrom patah hati. Walaupun belum ada obat khusus, kombinasi terapi psikologis dan olahraga ternyata bisa bikin jantung lebih kuat lagi. Jadi, bukti nyata kalau kesehatan mental dan fisik memang saling nyambung!