Cina Mulai Dilirik sebagai Destinasi Operasi Plastik, Apa yang Membuatnya Menarik?

Genvoice.id | 06 Aug 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Selama bertahun-tahun Korea Selatan dikenal sebagai pusat operasi plastik dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, China mulai menarik perhatian pasien dari berbagai negara yang mencari prosedur estetika dengan hasil lebih alami, biaya kompetitif, serta didukung tenaga medis berpengalaman.

Salah satu pasien asal Korea Selatan, Lee So-hee, memilih terbang ke Hangzhou pada 2025 untuk menjalani operasi hidung. Perempuan berusia 29 tahun itu mengaku tertarik setelah melihat hasil operasi hidung di China yang dinilainya memiliki bentuk lebih berdimensi, halus, dan tetap terlihat natural.

Mengutip dari CNA, Kamis (6/8), Lee mengungkapkan pengalaman konsultasi di China juga berbeda dari yang pernah ia rasakan di negaranya. Saat sempat mempertimbangkan prosedur pembentukan kontur wajah, dokter justru menyarankan agar ia tidak melanjutkannya karena struktur tulang pipinya sudah sedikit asimetris. Sebagai alternatif, ia direkomendasikan menjalani prosedur pengencangan wajah nonbedah yang dinilai lebih sesuai.

Menurutnya, pendekatan yang mengutamakan kebutuhan pasien dibanding sekadar melakukan tindakan medis menjadi salah satu alasan ia akhirnya memilih menjalani prosedur di China.

Tren tersebut ikut mendorong pertumbuhan industri estetika medis China. Berdasarkan data riset pasar, nilai industri ini mencapai 311,5 miliar yuan atau sekitar Rp831 triliun pada 2023 dan diproyeksikan meningkat hingga 1,3 triliun yuan atau sekitar Rp3.469 triliun pada 2030.

General Manager Red Ant, Linda Yu, mengatakan konsep kecantikan alami yang berkembang di China semakin diminati pasien internasional. Menurutnya, dokter-dokter di negara itu juga mulai memperoleh pengakuan berkat pengalaman klinis dan kemampuan profesional yang terus berkembang.

Data dari tim WeChat Tencent menunjukkan pengeluaran wisatawan asing menggunakan kartu bank luar negeri untuk layanan estetika medis selama libur Festival Musim Semi tahun ini meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, para pelaku industri menilai tren tersebut masih berada pada tahap awal dan Korea Selatan tetap menjadi pemimpin pasar global.

Berbeda dengan tren operasi plastik yang identik dengan perubahan wajah secara drastis, filosofi estetika di China lebih menekankan penyempurnaan penampilan tanpa menghilangkan karakter asli seseorang.

Linda Yu menjelaskan konsumen kini mulai meninggalkan tren wajah yang menyerupai selebritas media sosial dan lebih memilih prosedur yang mempertahankan identitas wajah. Survei Meituan bahkan menunjukkan sekitar 43 persen responden yang pernah menjalani prosedur kosmetik ingin tetap mempertahankan ciri alami mereka.

Dokter spesialis di Shanghai Huamei Medical Aesthetics Hospital, Nie Jie, mengatakan sebagian besar pasien kini menginginkan hasil yang tampak alami sehingga orang lain tidak menyadari mereka telah menjalani prosedur estetika.

Menurutnya, perubahan yang ideal justru membuat seseorang terlihat lebih segar atau lebih muda tanpa meninggalkan kesan telah menjalani operasi maupun suntikan kecantikan.

Klinik-klinik di Shanghai juga melaporkan peningkatan jumlah pasien dari luar negeri dalam dua tahun terakhir, terutama dari Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, dan sejumlah negara Asia Tenggara. Meski begitu, pasien domestik masih mendominasi layanan estetika medis di China.

Selain operasi plastik dan tindakan minim invasif seperti skin booster, filler, hingga pengencangan kulit menggunakan ultrasound dan laser, banyak pasien asing juga memanfaatkan kunjungan mereka untuk menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, layanan kedokteran gigi, skrining kanker, hingga pengobatan tradisional China atau Traditional Chinese Medicine (TCM).

Sejumlah pasien menilai proses pemeriksaan kesehatan di China lebih menyeluruh. Kim Yoon-ah, warga Korea Selatan yang menjalani prosedur estetika di Guangzhou, mengaku terkejut karena bahkan tindakan sederhana tetap diawali dengan tes darah dan pemeriksaan berbagai jenis virus.

Meski daya tarik China terus meningkat, para pengamat menilai negara tersebut masih memiliki tantangan untuk menyaingi dominasi Korea Selatan dalam industri wisata medis. Reputasi dan tingkat kepercayaan pasien dinilai masih menjadi faktor utama yang harus diperkuat.

Pakar dari Chinese University of Hong Kong Business School, Lisa Wan, menjelaskan keberhasilan Korea Selatan dibangun melalui strategi nasional yang memadukan popularitas budaya pop, kemudahan visa, insentif pajak, hingga layanan penerjemah di klinik.

Sementara itu, China mulai meningkatkan daya saing melalui kebijakan bebas visa bagi puluhan negara, besarnya pasar domestik, serta peningkatan kualitas tenaga medis. Namun, praktik klinik tanpa izin dan standar harga yang belum sepenuhnya seragam masih menjadi tantangan yang dapat memengaruhi kepercayaan calon pasien.

Menurut para pelaku industri, keberhasilan China dalam mengembangkan wisata medis tidak hanya bergantung pada harga yang lebih terjangkau, tetapi juga kemampuan menjaga kualitas layanan, keamanan, dan pengalaman pasien secara konsisten. Selain estetika medis, pengobatan tradisional China juga dinilai berpotensi menjadi keunggulan utama yang sulit ditandingi negara lain di kawasan Asia.