BMKG Beri Alarm Keras: Dalam Hitungan Bulan, Es Abadi Puncak Jayawijaya Diprediksi Bakal Hilang Total!

Genvoice.id | 06 Jul 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID -Ancaman hilangnya es abadi Puncak Jayawijaya di Papua kini memasuki fase yang sangat kritis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan seluruh warga Indonesia bahwa dalam hitungan bulan, satu-satunya gletser tropis di tanah air tersebut diprediksi akan mencair sepenuhnya akibat hantaman perubahan iklim yang ekstrem.

Penyusutan Drastis Gletser Papua dari Tahun ke Tahun

Berdasarkan pengamatan pakar klimatologi BMKG, lapisan salju dan es di puncak tertinggi Indonesia itu diperkirakan akan sirna total antara akhir tahun 2026 hingga awal 2027. Angka penyusutannya terbilang sangat mengerikan jika berkaca pada sejarahnya:

  • Luas Area Es: Pada tahun 1988, hamparan gletser tropis ini masih membentang seluas 4,3 kilometer persegi. Namun, per September 2025, area es yang tersisa hanya tinggal 0,09 kilometer persegi-atau menyusut drastis hingga tersisa 2% saja dari luasan awalnya.

  • Ketebalan Es: Pada tahun 2010, ketebalan lapisan es di titik pantau masih terukur sekitar 32 meter. Memasuki tahun 2023, ketebalannya merosot tajam hingga tersisa 4 meter saja. Laporan pemantauan paling mutakhir bahkan mengonfirmasi bahwa es di titik tiang pancang tersebut kini sudah mencair seutuhnya.

BMKG mencatat bahwa sejak tahun 2016, laju penipisan es di Puncak Jaya terjadi dengan kecepatan 2 hingga 2,5 meter per tahun. Fenomena pemanasan global yang diperparah oleh siklus El Nino kuat dituding sebagai pemicu utama meroketnya suhu udara dan membuat cuaca di Indonesia menjadi jauh lebih kering.

Dampak Budaya dan Petaka Ekologis bagi Masyarakat Papua

Kehilangan lapisan es ini bukan sekadar kehilangan pemandangan alam yang indah, melainkan sebuah petaka nyata bagi masyarakat lokal dan lingkungan sekitar. Bagi warga adat Papua, Puncak Jaya merupakan simbol spiritual dan kebudayaan yang sakral. Sirnanya es abadi tersebut menandakan hilangnya bagian penting dari warisan suci leluhur mereka.

Secara ekologis, keberadaan gletser di pegunungan berfungsi vital sebagai penjaga keseimbangan siklus air di tanah Papua. Jika es tersebut habis tak bersisa, stabilitas ekosistem, keselamatan habitat flora dan fauna endemik, hingga produktivitas lahan pertanian milik masyarakat setempat dipastikan akan ikut terganggu.

Realitas ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan iklim sedang terjadi di depan mata kita, dan generasi saat ini kemungkinan menjadi saksi terakhir keberadaan salju abadi di Indonesia.

Sebagai penutup, hilangnya es abadi di Puncak Jayawijaya harus menjadi alarm keras bagi seluruh elemen bangsa akan bahaya nyata pemanasan global.

Guna memperlambat laju kerusakan lingkungan yang lebih luas, BMKG mengajak masyarakat untuk mulai mengubah gaya hidup secara konkret, mulai dari beralih ke transportasi umum, menghemat penggunaan air, gencar menanam pohon, mendaur ulang sampah, hingga konsisten menggunakan produk ramah lingkungan demi menyelamatkan bumi untuk generasi masa depan.