Ternyata Ada Negara di Mana Muslim Tidak Wajib Puasa dan Salat, Ini Sebabnya

Genvoice.id | 06 Mar 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID-Memasuki bulan suci Ramadan, Allah Swt. mewajibkan umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Ibadah ini bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu serta mengingatkan manusia bahwa mereka memiliki kelebihan berupa akal dibanding makhluk lainnya.

Perintah puasa Ramadan dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba 'alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba 'alallażīna ming qablikum la'allakum tattaqụn.

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Selama menjalankan puasa, umat Muslim menahan makan dan minum sejak terbit fajar hingga waktu Magrib. Selain itu, mereka juga tetap melaksanakan berbagai ibadah lain, termasuk salat lima waktu.

Namun, praktik ibadah puasa ternyata tidak selalu dijalankan dengan cara yang sama oleh semua komunitas Muslim. Salah satu contoh yang cukup unik datang dari komunitas Baye Fall di Senegal.

Berbeda dengan mayoritas umat Islam, komunitas Baye Fall tidak menjalankan puasa Ramadan maupun salat lima waktu. Sebagai gantinya, mereka memaknai ibadah melalui kerja keras serta pengabdian kepada masyarakat.

Menurut kepercayaan mereka, aktivitas bekerja dengan sungguh-sungguh merupakan bentuk meditasi spiritual yang mengandung doa. Bentuk pengabdian tersebut dapat berupa pekerjaan fisik maupun kegiatan sosial seperti membangun koperasi, mengelola usaha sosial, hingga menjalankan organisasi nonpemerintah.

Selain itu, komunitas ini juga memiliki tradisi yang dikenal sebagai saam fall, yaitu ritual menari mengelilingi api unggun dua kali dalam seminggu.

Meski tidak menjalankan puasa seperti umat Muslim pada umumnya, komunitas Baye Fall tetap menganggap diri mereka sebagai bagian dari Islam. Bahkan ketika Ramadan tiba, mereka kerap menyiapkan makanan di masjid untuk umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa. Bagi mereka, kegiatan tersebut juga merupakan bentuk ibadah dan pengabdian kepada Tuhan.

Sejarah Kemunculan Komunitas Baye Fall

Komunitas Baye Fall merupakan salah satu kelompok Islam di Senegal, negara dengan mayoritas penduduk Muslim di kawasan Afrika Barat. Komunitas ini didirikan oleh Syekh Ibrahima Fall, murid dari ulama besar Afrika Barat bernama Amadou Bamba.

Dalam ajarannya, Amadou Bamba menekankan pentingnya menjalankan syariat Islam secara mendalam. Namun, ajaran tersebut tidak hanya berfokus pada ibadah ritual seperti salat dan puasa, tetapi juga mencakup nilai sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Pemikiran inilah yang kemudian menginspirasi Ibrahima Fall untuk menyebarkan ajaran tersebut melalui komunitas Baye Fall. Ia menekankan bahwa bekerja keras serta mengabdi kepada masyarakat juga dapat menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Menurut pandangannya, surga bukan hanya tujuan akhir kehidupan, tetapi juga bentuk penghargaan bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berbuat baik.

Pandangan ini membuat komunitas Baye Fall berkembang pesat. Bahkan jumlah pengikutnya disebut mencapai sekitar 17 juta orang.

Meski memiliki banyak pengikut, ajaran komunitas ini juga menuai kritik dari sebagian umat Islam di berbagai negara karena dianggap berbeda dari praktik syariat yang umum dijalankan. Kendati demikian, Baye Fall tetap eksis hingga saat ini dan memberikan perspektif bahwa agama tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat.