Daftar 7 Negara yang Siap Turun Perang Lawan Iran 2026, Ada Inggris dan Prancis!
JAKARTA, GENVOICE.ID -Kawasan Timur Tengah kian memanas, siapa saja negara yang siap terlibat dalam konflik ini? Pasca serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, konfrontasi militer kini memasuki babak baru yang sangat berbahaya.
Sebanyak tujuh negara, mulai dari kekuatan Eropa seperti Inggris dan Prancis hingga blok negara Teluk, mulai menunjukkan posisi mereka di medan tempur.
Simak daftar negara yang berpotensi turun tangan membela Israel-AS melawan Iran, serta bagaimana dampak pangkalan militer asing di Arab Saudi dan UEA memicu eskalasi perang terbuka di kawasan tersebut.
1. Dukungan Militer Langsung dari Inggris dan Prancis
Dua kekuatan besar Eropa, Inggris dan Prancis, menjadi pihak paling vokal dalam mendukung operasi militer melawan Iran.
-
Inggris: Perdana Menteri Keir Starmer telah memberikan lampu hijau bagi militer AS untuk menggunakan pangkalan Inggris di Timur Tengah. Langkah ini diambil secara sepihak tanpa melalui pemungutan suara parlemen, yang memicu gelombang kritik domestik.
-
Prancis: Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot mengonfirmasi kesiapan Prancis memperkuat pertahanan di sekitar Siprus dan mengirimkan dua kapal fregat ke Laut Merah untuk melindungi mitra kawasan.
2. Dilema Negara-Negara Teluk di Garis Depan
Negara-negara yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC) kini berada dalam posisi terjepit. Keberadaan pangkalan militer AS di wilayah mereka menjadikan negara-negara ini sasaran empuk rudal Iran.
-
Arab Saudi & UEA: Kedua negara ini menegaskan hak untuk membela diri sesuai Pasal 51 Piagam PBB. Arab Saudi menyatakan siap mengambil segala tindakan balasan yang diperlukan jika kedaulatan mereka terancam.
-
Qatar, Kuwait, dan Bahrain: Terikat oleh Pakta Pertahanan Bersama GCC, serangan terhadap salah satu anggota berpotensi menyeret seluruh blok Teluk ke dalam pusaran perang terbuka yang lebih luas.
3. Diplomasi yang Buntu dan Risiko Perang Meluas
Pernyataan bersama dari Inggris, Prancis, dan Jerman yang mendukung tindakan militer proporsional untuk melumpuhkan armada drone dan rudal Iran dianggap banyak pihak menutup pintu diplomasi.
Di tengah upaya mediasi yang ditawarkan oleh pemimpin dunia lainnya, termasuk Presiden Indonesia Prabowo Subianto, langkah negara-negara Barat ini justru dikhawatirkan akan memperkecil peluang gencatan senjata dan memicu perang regional yang tak terkendali.
Situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini berada di titik nadir dengan ruang diplomasi yang kian menyempit.
Keterlibatan aktif kekuatan militer Barat dan posisi sulit yang dihadapi negara-negara Teluk menunjukkan bahwa risiko perang regional berskala besar bukan lagi sekadar ancaman, melainkan realitas di depan mata.
Masyarakat internasional kini menanti apakah upaya mediasi, termasuk yang ditawarkan oleh Presiden Prabowo, mampu meredam ketegangan, ataukah kawasan tersebut akan benar-benar tenggelam dalam konflik berkepanjangan yang merugikan stabilitas global.