Tompi Kritik Pandji Pragiwaksono, Sebut Menertawakan Fisik Gibran Itu Tanda Malas Berpikir!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia media sosial lagi rame banget ngebahas perselisihan pendapat antara dua figur publik besar, yaitu musisi sekaligus dokter bedah plastik, Tompi, dengan komika kondang Pandji Pragiwaksono. Hebohnya masalah ini bermula setelah Pandji merilis pertunjukan stand-up comedy terbarunya yang berjudul "Mens Rea" di sebuah platform streaming. Dalam materi komedinya, Pandji sempat menyinggung penampilan fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang menurutnya terlihat seperti orang mengantuk.
Perdebatan ini makin memanas ketika Tompi secara terbuka memberikan kritik tajam melalui akun Instagram pribadinya. Tompi menilai bahwa menyerang kondisi tubuh seseorang untuk dijadikan bahan guyonan bukanlah sebuah bentuk komedi yang cerdas, melainkan sebuah kemunduran dalam berpikir. Meskipun secara umum Tompi mengaku setuju dengan keresahan politik yang disampaikan Pandji dalam durasi dua jam lebih pertunjukan tersebut, ada satu poin besar yang menurutnya sangat disayangkan dan tidak seharusnya menjadi konsumsi komedi publik, Gen.
Menanggapi berbagai spekulasi netizen yang mengira hubungan mereka retak, Tompi langsung memberikan klarifikasi saat ditemui di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada Senin, 5 Januari 2026. Tompi menegaskan bahwa hubungannya dengan Pandji tetap baik sebagai teman, meskipun mereka sering punya pandangan politik yang berbeda.
"Saya klarifikasi dulu bahwa saya dan Pandji itu berteman. Walaupun dalam beberapa kali urusan politik kita tidak selalu satu 'track', tapi kita temenan. Saya baik-baik aja sama dia, dan enggak punya personal issue, tidak ada urusan pribadi," kata Tompi memberikan penegasan agar tidak ada salah paham di antara para pendukung mereka.
Penjelasan Medis Ptosis dan Etika Mengkritik
Sebagai seorang ahli bedah plastik, Tompi merasa punya kewajiban buat meluruskan anggapan miring soal wajah sang Wapres. Menurut Tompi, kondisi mata Gibran yang terlihat "mengantuk" bukanlah karena kurang tidur atau lemas, melainkan kondisi anatomi bawaan sejak lahir yang dalam istilah medis disebut ptosis. Kondisi ini terjadi karena otot kelopak mata atau levator sedikit lebih panjang sehingga kelopak mata turun ke bawah dan bukaan matanya tidak bisa maksimal.
"Ptosis itu otot levator (kelopak mata) kepanjangan turun ke bawah, jadi mata dia tertutup, bukaan matanya tidak maksimal. Pada orang dewasa yang kasus seperti Pak Gibran, Pak Wapres, itu kondisi ptosisnya tidak terlalu berat," jelas Tompi secara detail agar publik paham sisi medisnya.
Tompi menambahkan bahwa mengkritik kebijakan atau kinerja seorang pejabat publik sangatlah sah dan boleh dilakukan dengan cara apa pun, baik itu satire maupun humor. Namun, yang jadi masalah buat Tompi adalah ketika kritik itu mulai masuk ke ranah fisik atau body shaming. Lewat unggahan di Instagram, Tompi menuliskan pesan yang sangat menohok buat siapa pun yang masih suka menghina fisik orang lain.
"Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir," tulis Tompi dalam keterangan fotonya yang langsung viral.
Respons Pandji Pragiwaksono Terhadap Kritik Tompi
Melihat unggahan tersebut, Pandji Pragiwaksono ternyata tidak tinggal diam. Namun bukannya marah atau memicu keributan lebih lanjut, komika yang sudah sepuluh kali menggelar pertunjukan spesial ini justru memberikan respons yang sangat dewasa di kolom komentar. Pandji menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas masukan serta perspektif yang diberikan oleh Tompi. Hal ini menunjukkan kalau meskipun ada beda pendapat soal materi komedi, keduanya tetap profesional sebagai rekan kerja di industri kreatif, Gen.
Tompi sendiri berharap ke depannya kritik terhadap tokoh politik lebih fokus pada kebijakan atau hasil kerja nyata, bukan lagi menyerang penampilan fisik yang memang sudah pemberian tuhan sejak lahir. Bagi Tompi, kecerdasan seorang kritikus atau komedian diuji dari bagaimana mereka bisa mengulas masalah tanpa harus menjatuhkan martabat tubuh seseorang. Jadi, perselisihan ini sebenarnya menjadi pelajaran berharga buat kita semua tentang batasan dalam berkomedi dan mengkritik, Gen.
Menurut Gen, apakah setuju dengan pendapat Tompi kalau urusan fisik itu haram hukumnya dijadikan bahan candaan politik, atau menurut kalian dalam komedi semuanya sah-sah saja?