Cocok untuk Gen Z! Dokter Saraf Ungkap Kebiasaan Sederhana yang Bisa Menjaga Kesehatan Otak dan Mental

Genvoice.id | 06 Jan 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ketua sekaligus direktur grup neurologi di RS Yatharth India Utara, Dr. Kunal Bahrain, mengungkapkan bahwa kesehatan mental dan otak tidak hanya ditentukan oleh faktor medis, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang konsisten.

Menurutnya, banyak keluhan umum seperti sulit berkonsentrasi, mudah lupa, emosi tidak stabil, hingga kelelahan mental berkaitan erat dengan bagaimana otak dirawat setiap hari.

"Banyak kekhawatiran sehari-hari, seperti konsentrasi yang buruk, sering lupa, ketidakstabilan emosi, dan kelelahan mental, terkait erat dengan bagaimana otak didukung setiap hari. Namun, kesehatan otak dapat dibentuk oleh kebiasaan yang konsisten dan didorong oleh gaya hidup yang memengaruhi kognisi, suasana hati, dan ketahanan dari waktu ke waktu," ujar Kunal Bahrain, dikutip dari Hindustan Times, Selasa.

Ia menjelaskan, paparan cahaya matahari di pagi hari menjadi salah satu kebiasaan penting untuk mendukung kesehatan otak. Cahaya alami membantu menyelaraskan siklus tidur dan bangun, meningkatkan kewaspadaan di siang hari, serta memperbaiki kualitas tidur pada malam hari. Aktivitas sederhana seperti duduk di dekat jendela atau berjalan santai di luar ruangan sudah cukup memberikan manfaat tersebut.

Selain itu, Kunal menekankan pentingnya membiasakan diri fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Kebiasaan multitasking yang kerap dianggap produktif justru memberi beban kognitif berlebih pada otak, menurunkan efisiensi kerja, dan melemahkan rentang perhatian dalam jangka panjang.

Menulis dengan alat tulis juga dinilai efektif untuk menjernihkan pikiran. Aktivitas ini membantu otak mengatur informasi sekaligus merespons emosi dengan lebih terstruktur. Menurutnya, menulis jurnal singkat secara rutin dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kemampuan pengaturan emosi.

Aktivitas fisik pun tidak kalah penting. Gerakan ringan seperti yoga, berjalan kaki, atau peregangan secara teratur terbukti mendukung fungsi otak sekaligus menjaga kestabilan emosi. Kebiasaan ini membantu melancarkan aliran darah ke otak dan memperkuat koneksi saraf yang berperan dalam suasana hati.

Pola tidur yang teratur juga menjadi faktor krusial. Tidur tepat waktu berperan besar dalam konsolidasi memori, pemrosesan emosi, serta pemulihan sistem saraf. Kurang tidur atau jam tidur yang tidak konsisten dapat berdampak langsung pada kemampuan berpikir dan mengelola emosi.

Di era digital, Kunal mengingatkan pentingnya menetapkan batasan penggunaan gawai. Paparan digital yang berlebihan membuat otak berada dalam kondisi siaga terus-menerus, sehingga menghambat kemampuan fokus mendalam dan meningkatkan kelelahan mental.

Sebagai penutup, ia menyarankan adanya jeda harian untuk menurunkan stres dan mengelola tuntutan emosi. Praktik sederhana seperti bernapas perlahan, berhenti sejenak sebelum bereaksi, atau menghabiskan waktu bersama lingkungan sosial yang suportif dapat membantu menenangkan sistem saraf.

"Langkah-langkah sederhana ini membantu menggeser sistem saraf ke arah keadaan yang lebih tenang, meningkatkan stabilitas emosional, serta kualitas pengambilan keputusan," pungkasnya.