Aneh, Sentimen Positif Warnai Pasar Saham di Tengah Konflik AS-Venezuela
JAKARTA -Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilaieskalasi politik antara Amerika Serikat (AS) dengan Venezuela belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pasar saham.
Menurutnya, reaksi pasar setelah peristiwa ini justru menunjukkan sentimen yang positif.
"Kalau saya lihat sih agak jauh, kalau anda lihat pasar saham kan malah naik kan, jadi mereka melihat justru sedikit positif kan, agak aneh sebenarnya. Tapi itu yang dilihat pasar," kata Purbaya.
Dari sisi ekonomi makro, Purbaya menyebutpotensi dampak eskalasi AS-Venezuela terhadap Indonesia relatif terbatas.
Menurutnya, Venezuela sudah lama tidak terlalu aktif di pasar minyak dunia, karena kapasitas produksinya terbatas.
Dampak Lanjutan
Pemerintah Indonesia diminta tetap mewaspadai potensi dampak lanjutan dari eskalasi politik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, meski sejauh ini belum terlihat pengaruh signifikan terhadap perekonomian nasional.
Ketegangan kedua negara dinilai berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia serta memengaruhi sentimen pasar global jika berkembang lebih jauh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan hingga kini eskalasi tersebut belum berdampak pada harga minyak impor Indonesia.
"Harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/1).
Seperti dikutip dari Antara, Airlangga menyebut saat ini harga minyak dunia masih relatif rendah atau sekitar 63 dollar AS per barel. Dengan adanya eskalasi politik antara kedua negara, maka diprediksi harga minyak dunia akan melambung, mengingat posisi Venezuela sebagai salah satu sumber minyak dunia yang dapat memengaruhi pergerakan harga minyak global.
Namun demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memonitor dan berkoordinasi terhadap perubahan harga, serta mempersiapkan langkah antisipasi.
Sementara itu, ekonom yang juga Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai gejolak politik di Venezuela belum berdampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Bhima menuturkan hingga awal 2026, harga minyak mentah masih berada di level rendah dengan koreksi mencapai 22 persen dalam satu tahun terakhir, tanpa tanda-tandarebound.
Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, Bhima menyebut kondisi geopolitik yang biasanya memicu lonjakan harga komoditas energi kali ini belum tercermin di pasar global.
Menurut Bhima, gejolak geopolitik biasanya tercermin dari peralihan minat investor ke dollar AS sebagai aset aman(safe haven).
"Indeks dolar AS terhadap mata uang lain masih fluktuatif di level 98. Belum terlihat kepanikan investor global karena kejadian di Venezuela," ujar Bhima. ers/YK/and