Tertangkap Satelit NASA, Gelapnya Kabut Asap Karhutla Indonesia Sampai Disorot Dunia!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang dipicu oleh lonjakan fenomena El Nino parah kini kian mengkhawatirkan hingga menarik perhatian dunia.
Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) secara khusus menyoroti tebalnya kabut asap yang menyelimuti kawasan Asia Tenggara akibat terbakarnya ribuan hektar lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan.
Simak ulasan mengenai temuan satelit NASA, dampak emisi gas rumah kaca, hingga langkah pemerintah dalam menangani krisis karhutla nasional berikut ini.
Sorotan Satelit NASA terhadap Kabut Asap Indonesia
Melalui unggahan di akun resmi @NASAEarth, NASA membagikan citra satelit yang memperlihatkan pekatnya kabut asap hasil bentangan karhutla di Indonesia yang sampai menyeberang ke wilayah Malaysia. Instrumen MODIS milik satelit NASA menangkap titik-titik anomali panas yang membakar wilayah lahan gambut tropis Indonesia.
Lahan gambut yang mengering akibat kemarau panjang memicu api di bawah permukaan tanah (underground fire) yang sangat sulit dipadamkan dan melepaskan polusi berbahaya, termasuk karbon organik, sulfur oksida, dan metana dalam jumlah berlipat ganda dibanding kebakaran hutan tropis biasa.
Ancaman El Nino dan Lonjakan Emisi Karbon
Peneliti dari Universitas Columbia, Robert Field, mengungkapkan bahwa lonjakan aktivitas kebakaran tahun ini memiliki pola yang sangat mirip dengan krisis karhutla dahsyat pada 2015 lalu. Mengingat Indonesia merupakan rumah bagi 36 persen lahan gambut tropis dunia, kekeringan ekstrem akibat El Nino membuat kawasan ini sangat rentan:
-
Data BMKG menunjukkan sekitar 90 persen wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan secara drastis sejak awal Agustus.
-
Dalam kurun waktu satu bulan, emisi gas rumah kaca akibat karhutla telah mencapai sekitar 10 persen dari total emisi bencana 2015.
-
Api bawah tanah diperkirakan akan terus membara hingga puncak El Nino berlalu dan hujan turun di bulan Oktober atau November.
Pemerintah Tetapkan Kalimantan dan Sumatra sebagai Prioritas
Merespons peningkatan hotspot (titik panas) berdasarkan data Sipongi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengonfirmasi bahwa Kalimantan Barat (meningkat jadi 859 titik) dan Kalimantan Tengah (623 titik) kini menjadi fokus utama penanganan nasional.
Menhut bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto langsung turun ke lapangan untuk melakukan evaluasi mitigasi serta koordinasi ketat bersama jajaran Pemda, Kapolda, dan Pangdam setempat.
Instruksi Presiden dan Solusi Spiritual
Krisis lingkungan ini memicu respons cepat dari jajaran pimpinan tertinggi negara:
-
Rapat Terbatas Presiden: Presiden Prabowo Subianto memanggil Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, dan jajaran menteri di Hambalang untuk menginstruksikan penanganan cepat dan terpadu.
-
Sholat Istisqa: Mendorong ikhtiar spiritual, masyarakat bersama para ulama di Kalimantan Barat menggelar Sholat Istisqa untuk memohon diturunkannya hujan guna memadamkan titik api serta mengakhiri kemarau panjang.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan yang kian meluas memerlukan kolaborasi solid antara pemerintah pusat, aparat keamanan, dan masyarakat daerah.
Penanggulangan api lahan gambut memang membutuhkan strategi khusus agar tidak menimbulkan dampak kesehatan dan kerusakan ekologis yang lebih parah. Diharapkan langkah mitigasi terpadu serta percepatan pemadaman di titik-titik prioritas dapat segera menekan angka hotspot sebelum mencapai puncak krisis El Nino.