Jakarta Masih Terjebak Macet, Apa Rahasia Tokyo Bisa Menggerakkan Jutaan Warga Tanpa Kendaraan Pribadi?

Genvoice.id | 05 Jul 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Jakarta terus menunjukkan perkembangan sebagai kota metropolitan yang semakin diperhitungkan dunia. Berbagai indikator internasional menempatkan ibu kota Indonesia sebagai salah satu kota dengan daya saing yang terus meningkat, termasuk keberhasilannya masuk dalam daftar World's Best Cities 2026.

Namun, di balik berbagai pencapaian tersebut, masih ada persoalan yang setiap hari dirasakan jutaan warga. Mulai dari kemacetan, polusi udara, banjir, hingga keterbatasan akses layanan dasar seperti air bersih dan transportasi publik yang belum sepenuhnya terintegrasi.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan besar, mampukah Jakarta mengikuti jejak Tokyo, salah satu kota metropolitan yang berhasil mengatasi kemacetan melalui sistem transportasi publik yang efisien?

1. Perjalanan ke Tempat Kerja Masih Menghabiskan Banyak Waktu

Bagi sebagian warga Jakarta dan kawasan penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, serta Bekasi, perjalanan menuju kantor masih menjadi rutinitas yang melelahkan.

Tak sedikit pekerja yang menghabiskan hingga tiga jam setiap hari hanya untuk perjalanan pergi dan pulang. Waktu yang terbuang di jalan berdampak pada produktivitas, kualitas hidup, hingga waktu bersama keluarga.

2. Kemacetan Masih Menjadi Pemandangan Sehari-hari

Meski pembangunan jalan layang, MRT, LRT, dan berbagai proyek infrastruktur terus dilakukan, kepadatan lalu lintas masih menjadi persoalan utama.

Pada jam berangkat maupun pulang kerja, sejumlah ruas jalan utama tetap dipenuhi kendaraan. Pertumbuhan kendaraan pribadi yang lebih cepat dibanding kapasitas jalan membuat kemacetan sulit dihindari.

3. Polusi Udara Masih Mengancam Kesehatan

Selain macet, kualitas udara Jakarta juga masih menjadi perhatian.

Dalam beberapa kesempatan, Jakarta bahkan sempat masuk dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk berdasarkan Air Quality Index (AQI).

Paparan polutan, khususnya partikel halus PM2.5, diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga berbagai masalah kesehatan apabila terpapar dalam jangka panjang.

4. Transportasi Publik Terus Berkembang, tetapi Belum Menjangkau Semua Wilayah

Jakarta kini memiliki beragam moda transportasi massal, mulai dari MRT, LRT, KRL Commuter Line, TransJakarta, hingga layanan feeder.

Meski demikian, konektivitas antarmoda dinilai belum sepenuhnya merata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di kawasan penyangga Jabodetabek.

Akibatnya, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang karena dianggap lebih praktis untuk menjangkau lokasi tujuan.

5. Banjir Musiman Masih Menjadi Tantangan

Setiap musim hujan, sejumlah kawasan di Jakarta masih menghadapi genangan hingga banjir.

Pemerintah memang terus melakukan normalisasi sungai, pembangunan waduk, hingga perbaikan sistem drainase. Namun, tingginya curah hujan, perubahan tata ruang, dan penurunan muka tanah membuat persoalan ini belum sepenuhnya teratasi.

6. Layanan Air Bersih Belum Dinikmati Seluruh Warga

Persoalan lain yang juga masih menjadi perhatian adalah akses terhadap air bersih.

Saat ini, layanan air minum perpipaan yang dikelola PAM JAYA baru menjangkau sekitar 65 persen wilayah layanan. Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta masih bergantung pada air tanah, sumur, atau sumber air alternatif lainnya.

Padahal, akses terhadap air bersih merupakan salah satu indikator penting kualitas hidup masyarakat perkotaan.

7. Kendaraan Pribadi Masih Mendominasi Mobilitas

Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta telah melampaui 12 juta unit, terdiri dari jutaan sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan angkutan barang.

Di sisi lain, penggunaan transportasi umum memang terus meningkat. Namun, jumlah perjalanan menggunakan kendaraan pribadi masih jauh lebih besar sehingga memberikan tekanan tinggi terhadap kapasitas jalan dan kualitas udara.

Ruang Terbuka Hijau Masih Perlu Diperluas

Selain transportasi, ketersediaan ruang terbuka hijau juga menjadi sorotan.

Pembangunan kawasan bisnis dan permukiman yang terus berkembang membuat keberadaan ruang hijau dinilai belum ideal. Meski pemerintah terus membangun dan merevitalisasi taman kota, kebutuhan ruang terbuka hijau masih menjadi pekerjaan rumah bagi Jakarta.

Tokyo Jadi Contoh Kota dengan Mobilitas Efisien

Jika berbicara mengenai transportasi publik, Tokyo sering dijadikan salah satu contoh terbaik di dunia.

Kawasan metropolitan yang dihuni sekitar 37 juta penduduk itu memiliki jaringan transportasi yang saling terhubung dengan sangat baik. Kereta, bus, dan moda transportasi lainnya beroperasi secara terintegrasi sehingga memudahkan masyarakat berpindah dari satu titik ke titik lain.

Sekitar 80 persen warga Tokyo mengandalkan transportasi umum untuk aktivitas sehari-hari. Tingginya penggunaan angkutan massal membuat ketergantungan terhadap kendaraan pribadi jauh lebih rendah dibandingkan banyak kota besar lainnya.

Sistem yang tepat waktu, nyaman, aman, dan menjangkau hampir seluruh kawasan menjadi alasan utama masyarakat lebih memilih transportasi publik dibanding membawa kendaraan sendiri.

Jakarta Terus Berbenah Menuju Kota Global

Jakarta memang telah menunjukkan banyak kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai proyek transportasi massal, revitalisasi kawasan, hingga peningkatan infrastruktur menjadi bagian dari upaya mewujudkan kota yang lebih modern dan kompetitif.

Meski demikian, tantangan seperti kemacetan, polusi udara, banjir, pemerataan layanan air bersih, hingga integrasi transportasi publik masih membutuhkan perhatian serius.

Ke depan, keberhasilan Jakarta sebagai kota global tidak hanya diukur dari posisi dalam pemeringkatan internasional, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan layanan publik yang berkualitas, mobilitas yang efisien, dan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warganya.