Dolar Meroket ke Rp18.000, Pengusaha Mulai Ketar-Ketir: Lowongan Kerja Disetop, PHK Disebut Makin Sulit Dihindari
JAKARTA, GENVOICE.ID - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai level Rp18.000 per dolar AS mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengusaha memilih menahan ekspansi bisnis, termasuk menghentikan pembukaan lowongan kerja baru demi menjaga efisiensi operasional.
Bahkan, sebagian pelaku usaha disebut mulai mempertimbangkan mempercepat rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) karena tekanan terhadap arus kas perusahaan semakin berat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, yang mengungkapkan bahwa banyak perusahaan saat ini lebih fokus menjaga stabilitas keuangan dibanding melakukan penambahan tenaga kerja.
Menurutnya, penghentian rekrutmen sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Namun dengan kondisi nilai tukar yang terus tertekan, sejumlah perusahaan kini mengambil langkah lebih jauh dengan mempercepat proses PHK terhadap pekerja yang dinilai sudah tidak dibutuhkan.
"Sudah lama sebenarnya tidak membuka lowongan baru. Dalam situasi sekarang, jika ada posisi yang dianggap tidak lagi diperlukan, proses PHK cenderung dipercepat karena yang paling dijaga pengusaha adalah cashflow," ujarnya.
Ketidakpastian Rupiah Jadi Kekhawatiran Pelaku Usaha
Selain fokus menjaga arus kas dan melakukan efisiensi, dunia usaha juga menghadapi ketidakpastian mengenai kapan tekanan terhadap rupiah akan mereda. Pelaku usaha menilai belum ada kepastian mengenai waktu pemulihan nilai tukar sehingga mereka harus menyiapkan berbagai langkah antisipasi.
Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), terutama perusahaan garmen yang masih bergantung pada bahan baku impor berdenominasi dolar AS. Di sisi lain, hasil produksinya dijual di pasar domestik menggunakan rupiah sehingga margin keuntungan semakin tergerus.
Eksportir Justru Mendapat Keuntungan
Meski demikian, kondisi pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif bagi seluruh sektor. Perusahaan yang berorientasi ekspor justru dapat memperoleh keuntungan karena pendapatan mereka sebagian besar menggunakan mata uang asing.
Selain itu, sejumlah pelaku usaha masih dapat mengimpor bahan baku dari China menggunakan mata uang yuan sehingga dampak penguatan dolar tidak terlalu besar.
Menurut Benny, perusahaan yang mengimpor bahan baku menggunakan dolar AS namun menjual produknya dalam rupiah menjadi kelompok yang paling tertekan dalam situasi saat ini.
"Ketika dolar sedang tinggi, yang paling berat adalah pelaku usaha yang membeli bahan baku dengan dolar tetapi menjual produknya dalam rupiah. Kondisi itu tentu berpotensi menimbulkan kerugian," katanya.
Kondisi Saat Ini Dinilai Berbeda dengan Krisis 1998
Meski rupiah mengalami tekanan cukup besar, Benny menilai kondisi ekonomi saat ini tidak bisa disamakan dengan krisis moneter yang terjadi pada 1998.
Menurutnya, salah satu perbedaan utama terletak pada posisi cadangan devisa Indonesia yang kini jauh lebih kuat dibanding saat krisis Asia lebih dari dua dekade lalu.
Ia menjelaskan bahwa pada 1998 cadangan devisa Indonesia masih relatif terbatas, sedangkan saat ini jumlahnya telah melampaui 100 miliar dolar AS. Kondisi tersebut dinilai memberikan bantalan yang lebih kuat bagi perekonomian nasional dalam menghadapi gejolak nilai tukar dan ketidakpastian global.