Mirip di Indonesia, Demo "No Kings" Amerika Turut Kibarkan Bendera One Piece!

Genvoice.id | 05 May 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gelombang kemarahan publik meledak di Amerika Serikat ketika jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk "No Kings".

Demonstrasi yang berlangsung di seluruh 50 negara bagian ini menjadi simbol penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai semakin mengancam nilai-nilai demokrasi.

Penyelenggara mengklaim sekitar tujuh juta orang ikut serta dalam aksi yang digelar dari New York City hingga Los Angeles pada 18 Oktober 2025. Tak hanya di kota besar, demonstrasi juga menjalar ke kota-kota kecil, bahkan hingga wilayah dekat kediaman Trump di Florida.

Di Washington, D.C., ribuan orang berkumpul di sekitar Gedung Capitol Amerika Serikat sambil meneriakkan "Beginilah demokrasi!". Suara lain yang menggema di tengah massa adalah tuntutan agar Trump mundur, menunjukkan besarnya tekanan politik yang muncul dari jalanan.

Aksi ini dipenuhi simbol dan pesan kuat. Bendera Amerika dikibarkan, beberapa bahkan dalam posisi terbalik sebagai tanda darurat. Spanduk warna-warni menyerukan perlindungan terhadap demokrasi, sementara tuntutan lain mengarah pada pembubaran Immigration and Customs Enforcement (ICE), lembaga yang menjadi pusat kebijakan keras terhadap imigran.

Para demonstran menilai berbagai langkah pemerintah-mulai dari tekanan terhadap media, lawan politik, hingga kebijakan imigrasi sebagai tanda bahaya. Banyak dari mereka mengungkapkan kekhawatiran bahwa negara tersebut tengah bergerak menuju sistem yang lebih otoriter.

Di Los Angeles, aksi bahkan diwarnai simbol-simbol satir, seperti balon raksasa bergambar Trump mengenakan popok. Sementara di kota lain seperti Houston, pesan yang diangkat lebih bernuansa sosial dengan seruan "lawan ketidaktahuan, bukan migran".

Menariknya, di tengah lautan bendera dan poster, terlihat pula simbol budaya pop. Bendera dari anime One Piece ikut dikibarkan, melambangkan perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggap tidak adil-sebuah simbol yang belakangan sering muncul dalam berbagai protes global.

Meski jumlah pasti peserta sulit diverifikasi secara independen, pihak berwenang di New York mencatat lebih dari 100.000 orang hadir dalam salah satu aksi terbesar. Sementara di Washington, jumlah massa diperkirakan mencapai 8.000 hingga 10.000 orang.

Di tengah tekanan tersebut, Trump menanggapi dengan pernyataan bahwa dirinya bukanlah seorang raja, meski sebelumnya tim komunikasinya sempat mengunggah video bergaya kerajaan. Pernyataan ini justru semakin memicu perdebatan publik.

Di sisi lain, para pendukung Trump mengecam aksi tersebut sebagai bentuk "kebencian terhadap Amerika". Namun, para demonstran menolak label itu. Bagi mereka, apa yang terjadi di jalanan adalah bentuk nyata partisipasi warga dalam demokrasi.

Aksi "No Kings" pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar demonstrasi. Ia menjelma menjadi cerminan polarisasi yang semakin tajam di Amerika, di mana jutaan orang merasa perlu turun langsung ke jalan demi mempertahankan arah demokrasi yang mereka yakini.