Sidang Nadiem Makarim Perdana Kasus Korupsi Chromebook Diwarnai Banjir Karangan Bunga!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Geger banget hari ini di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 5 Januari 2026. Sosok yang dulunya dikenal sebagai bos startup besar sekaligus mantan Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, akhirnya menjalani sidang pertamanya sebagai terdakwa. Pembuka dari persidangan ini bener-bener menyita perhatian publik karena bukan cuma soal hukum, tapi ada fenomena unik di luar gedung pengadilan. Trotoar di depan PN Jakpus mendadak berubah jadi taman bunga dadakan gara-gara banyaknya kiriman papan bunga yang berjejer rapi.
Kiriman-kiriman tersebut datang dari berbagai pihak dengan pesan-pesan yang bener-bener puitis sekaligus menyentil. Banyak yang memberikan dukungan moral lewat tulisan-tulisan tersebut, namun ada juga yang seolah menyuarakan harapan agar proses hukum ini berjalan dengan sangat transparan. Pemandangan ini langsung jadi konsumsi kamera wartawan dan warga yang melintas, menunjukkan betapa besarnya dampak kasus ini di mata masyarakat, Gen.
Pesan-pesan di papan bunga itu emang nggak biasa banget. Salah satunya datang dari pihak bernama Arief, Sari, dan Adiel yang menuliskan kalimat cukup menyentuh, "Jika membawa cahaya adalah dosa, maka Nadiem Makarim hanya menyalakan lilin di tengah kabut". Ada juga dari Muriel dan Muara yang menuliskan, "Bukan korupsi yang ditakuti, melainkan perubahan".
Bahkan, ada pesan yang seolah menyebut Nadiem berada di lingkungan yang salah, seperti tulisan dari Rayya, Hana, Aria, dan Asha yang berbunyi, "Bunga tak bersalah bila mekar terlalu awal, Nadiem Makarim kau hanya tumbuh di tanah yang salah". Selain pesan-pesan bernada puitis itu, nampak juga karangan bunga dari Felicia Kawilarang yang isinya lebih ke harapan proses hukum: "Dengan doa dan harapan untuk proses yang transparan dan adil".
Dakwaan Kerugian Negara Rp2,18 Triliun yang Bikin Syok
Di balik hebohnya karangan bunga itu, agenda utama persidangan sebenarnya sangat berat, yaitu pembacaan surat dakwaan. Masalah hukum yang menyeret Nadiem ini berkaitan dengan dugaan korupsi dalam program digitalisasi pendidikan di lingkungan Kemendikbudristek sepanjang tahun 2019 sampai 2022. Inti masalahnya ada pada proyek pengadaan laptop Chromebook serta Chrome Device Management (CDM). Berdasarkan isi dakwaan, tindakan ini diduga sudah merugikan kantong negara dengan angka yang nggak main-main, yaitu mencapai Rp2,18 triliun, Gen.
Secara lebih detail, kerugian itu terbagi jadi dua bagian besar. Pertama, ada Rp1,56 triliun yang terkait langsung sama program digitalisasi pendidikan. Kedua, ada angka sekitar 44,05 juta dolar AS atau kalau dirupiahkan setara Rp621,39 miliar gara-gara pengadaan sistem CDM yang dianggap nggak perlu dan nggak memberikan manfaat buat pendidikan. Jaksa menyebut kalau pengadaan sarana belajar berbasis teknologi ini dilakukan nggak sesuai sama prinsip-prinsip dan perencanaan yang seharusnya.
Aliran Dana dan Ancaman Hukuman Berat
Yang makin bikin heboh dari isi dakwaan ini adalah adanya dugaan aliran dana pribadi. Nadiem dituduh sudah menerima uang sebesar Rp809,59 miliar. Kabarnya, dana tersebut berasal dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (PT AKAB) lewat PT Gojek Indonesia. Nggak sendirian, perbuatan ini diduga dilakukan bareng-bareng sama beberapa orang lain yang sudah disidangkan duluan, yaitu Ibrahim Arief alias Ibam, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih. Ada juga satu nama lagi, Jurist Tan, yang infonya sampai sekarang masih buron dan jadi incaran petugas.
Gara-gara kasus pengadaan laptop ini, sang mantan menteri sekarang terancam pidana yang diatur dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kalau sampai terbukti bersalah, hukuman yang menanti tentu sangat serius. Sidang perdana ini baru awal dari babak panjang buat membuktikan apa yang sebenarnya terjadi di balik proyek besar digitalisasi sekolah tersebut. Kita pantau terus perkembangan sidangnya ya, Gen!
Menurut Gen, apakah banyaknya karangan bunga dukungan ini murni simpati publik karena menganggap Nadiem adalah sosok visioner, atau justru cuma pengalihan isu dari angka korupsi yang mencapai triliunan itu?