Pecco Bagnaia Frustrasi di Mandalika: 'Saya Hanya Penumpang di Atas Motor!'
JAKARTA, GENVOICE.ID - Juara dunia dua kali MotoGP, Francesco "Pecco" Bagnaia, mengalami mimpi buruk di sprint race MotoGP Indonesia 2025 yang digelar di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu.
Dilansir dari Antara, mengawali balapan dari posisi ke-16, pembalap andalan Ducati Lenovo itu harus puas finis di posisi ke-14, paling buncit dari seluruh pembalap yang menyelesaikan balapan.
Bukan hanya soal hasil, yang membuat Pecco frustrasi adalah performa Desmosedici GP25 miliknya yang menurutnya nyaris tak bisa dikendalikan. Dalam konferensi pers seusai balapan, Pecco meluapkan rasa kecewanya terhadap kondisi motornya yang kembali menunjukkan masalah klasik: sistem pengereman yang tidak stabil dan handling yang sulit diprediksi.
"Saya seperti tidak sedang berkendara. Saya hanya penumpang motor karena tidak bisa mengontrol apa-apa selama balapan," keluh Pecco.
Ia menjelaskan bahwa tikungan ke-10 menjadi momok tersendiri baginya sepanjang balapan.
"Saya hitung, saya berada di tikungan sepuluh tanpa bisa mengendalikan sistem pengereman sebanyak tiga kali. Saya perlu tiga percobaan untuk bisa sedikit menguasai motor di sana," tambahnya.
Masalah ini bukan kali pertama dialami Pecco. Sepanjang musim 2025, sang juara bertahan kerap dihantui isu serupa, terutama terkait kestabilan pengereman dan respons motor di tikungan. Meski sempat menunjukkan sinyal kebangkitan lewat kemenangan di GP Jepang di Sirkuit Motegi akhir September lalu, inkonsistensi kembali menghampirinya di Mandalika.
"Terkadang saya mempunyai akhir pekan seperti ini. Minggu lalu saya cukup beruntung, karena meskipun dalam kondisi yang serupa, saya bisa menang. Tapi kali ini, semuanya kacau," ucap Pecco, mengisyaratkan bahwa tim Ducati belum menemukan solusi pasti untuk persoalan teknis tersebut.
Dengan hasil sprint race yang mengecewakan dan kondisi motor yang belum optimal, Pecco akan menghadapi tantangan besar di balapan utama hari Minggu. Ia kembali harus memulai dari posisi ke-16, posisi yang jelas bukan ideal bagi pembalap yang tengah memburu poin penting untuk mempertahankan gelar juara dunia.
Kini, tekanan semakin besar bagi Bagnaia dan tim Ducati. Jika mereka tidak segera menemukan solusi atas "penyakit kambuhan" GP25, peluang mempertahankan mahkota juara dunia bisa saja menguap lebih cepat dari yang diperkirakan.
Artikel Terkait
Artikel terkait tidak ditemukan.