Penyebab Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan dan Cara Deteksinya Menurut BRIN

Genvoice.id | 04 Sep 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Fenomena kebakaran lahan gambut sering kali membingungkan karena api tetap menyala dan menjalar di bawah tanah meski kobaran di permukaan sudah tampak padam. Kondisi ini dipicu oleh proses pembakaran tanpa api atau smoldering yang sangat sulit dideteksi dan dipadamkan.

Menurut riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penurunan tinggi muka air tanah akibat pengeringan kanal menjadi penyebab utama gambut menjadi rawan terbakar. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab api gambut bertahan lama, bahaya smoldering, hingga sistem peringatan dini BRIN berikut ini.

Penyebab Utama Gambut Kering dan Mudah Terbakar

Secara alami, ekosistem gambut memiliki daya serap air yang sangat tinggi. Namun, aktivitas alih fungsi lahan dan pembangunan kanal untuk perkebunan kerap mengalirkan air keluar menuju wilayah yang lebih rendah.

Penjelasan dari Albertus Sulaiman, Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menegaskan bahwa:

  • Pengeringan Lahan: Kanal menurunkan Muka Air Tanah (MAT), membuat lapisan gambut kehilangan kelembapan alaminya.

  • Tingkat Kerentanan: Ketika gambut berada dalam kondisi sangat kering, ketiadaan cadangan air membuat ekosistem ini sangat mudah tersulut api.

Bahaya Smoldering: Api Tersembunyi di Bawah Tanah

Kebakaran gambut tidak selalu menunjukkan gejolak api yang besar di permukaan. Sebaliknya, api sering bertahan di dalam lapisan tanah melalui mekanisme smoldering (pembakaran perlahan).

  • Karakteristik Smoldering: Laju pembakarannya lambat tetapi berdurasi sangat panjang.

  • Tantangan Pemadaman: Karena sumber api berada tertimbun di dalam lapisan tanah, pemadaman langsung sangat sulit dilakukan dan tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman permukaan.

Sistem Peringatan Dini BRIN dan Fungsi Ekologis Gambut

Untuk mengatasi tantangan deteksi smoldering, BRIN mengembangkan sistem pemantauan tinggi muka air tanah atau Ground Water Level (GWL) berbasis teknologi penginderaan jauh dan data satelit.

  • Fungsi GWL sebagai Early Warning System: Penurunan GWL melewati batas kritis menjadi indikator awal bahwa lahan siap terbakar sebelum kepulan asap muncul.

  • Peran Kunci Rawa Gambut: Selain mencegah bencana karhutla, menjaga ekosistem rawa gambut tetap basah berfungsi penting untuk menyimpan cadangan karbon global, menjaga siklus tata air, serta mendukung pembentukan hujan lokal.

Oleh karena itu, BRIN mendorong pendekatan multidisiplin dengan Pusat Riset Ekologi sebagai pemandu utama guna memastikan kelestarian hutan rawa gambut Indonesia.

Sifat api gambut yang membara diam-diam di bawah tanah menegaskan bahwa penanganan kebakaran lahan tidak cukup hanya dengan memadamkan api di permukaan. Menjaga kelembapan ekosistem gambut melalui pembasahan berkelanjutan dan pemantauan tinggi muka air tanah adalah langkah paling krusial.

Dengan sistem peringatan dini yang tepat serta tata kelola air yang bijak, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat ditekan sekaligus melindungi fungsi vital gambut bagi kestabilan iklim global.