Aturan Gelaran F1 2025 Dianggap Tak Adil, Ini Perbedaannya dengan Sistem Poin Lama

Genvoice.id | 04 Sep 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Perdebatan kembali mencuat di kalangan penggemar Formula 1 setelah insiden yang menimpa Lando Norris di GP Belanda 2025. Retaknya mesin membuatnya gagal finis dan semakin tertinggal 34 poin dari Oscar Piastri di klasemen. Banyak yang menilai nasib buruk itu membuat persaingan gelar dunia jadi timpang. Tak sedikit yang menyebut aturan poin F1 saat ini terlalu kejam dan seandainya sistem lama masih berlaku, situasinya akan jauh lebih adil.

Dulu, Formula 1 sempat menggunakan sistem "drop scores", yaitu menghapus hasil terburuk pembalap dalam satu musim. Sistem ini populer pada era 1950-an hingga 1980-an, saat reliabilitas mobil masih sangat rentan. Mekanik bisa saja membuat kesalahan kecil yang berakibat fatal, dan DNF (Did Not Finish) jadi hal biasa. Dengan sistem tersebut, pembalap punya "joker" untuk menghapus hasil terburuk, entah karena kecelakaan atau kerusakan teknis.

Sebagai contoh, di musim 1967 setiap pembalap wajib membuang satu hasil terburuk di paruh pertama musim dan satu lagi di paruh kedua. Begitu juga di 1980, hanya 11 hasil terbaik yang dihitung, sehingga kemenangan punya bobot lebih besar ketimbang sekadar konsistensi podium. Namun aturan itu kemudian dikritik setelah kasus legendaris 1988, ketika Alain Prost mengumpulkan poin lebih banyak secara total, tetapi kalah gelar dari Ayrton Senna karena aturan "best 11 results". Sejak 1991, FIA akhirnya menghapus sistem drop scores dan mempertahankan semua poin yang diperoleh pembalap.

Jika aturan lama masih dipakai di 2025, hasil DNF Norris di Kanada dan Zandvoort bisa saja terhapus dari klasemen. Dengan begitu, selisih poin dengan Piastri tidak akan sebesar sekarang. Sebaliknya, Piastri justru akan kehilangan poin dari hasil finis terburuknya, misalnya posisi kedua di GP Hungaria. Artinya, perebutan gelar dunia akan lebih ketat dan tidak ditentukan semata-mata oleh keberuntungan teknis.

Meski begitu, FIA tetap berpegang pada aturan modern. Alasannya sederhana: reliabilitas mobil saat ini sudah jauh lebih baik, sehingga faktor teknis dianggap bagian dari tantangan balapan. Selain itu, sistem poin sederhana lebih mudah dipahami oleh penggemar baru, berbeda dengan era drop scores yang rumit dan penuh kalkulasi.

Pertanyaan pun muncul: apakah F1 lebih seru dengan aturan lama? Atau memang adil jika setiap poin yang diraih-dan hilang-harus menjadi bagian dari perjalanan menuju gelar juara dunia?