Trump Dikecam Usai Pecat Kepala BLS, Ekonom Sebut Ini ‘Langkah Otoriter’
JAKARTA, GENVOICE.ID - Setelah pekan ekonomi yang buruk, Presiden Donald Trump menuai kritik tajam usai memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), Erika McEntarfer. Langkah ini terjadi di tengah lesunya pertumbuhan lapangan kerja dan turunnya kepercayaan terhadap data ekonomi AS.
Pada bulan Juli, ekonomi Amerika hanya menambah 73.000 lapangan kerja-jauh di bawah ekspektasi analis. Tak hanya itu, dua bulan sebelumnya direvisi turun hingga 285.000 pekerjaan. Di tengah sorotan atas angka ini, Trump justru memecat McEntarfer, yang selama ini dikenal sebagai ahli statistik yang dihormati.
Pejabat Gedung Putih, termasuk Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, buru-buru membela keputusan Trump dalam wawancara di berbagai media nasional. "Presiden adalah presiden. Ia berhak memilih siapa yang bekerja di bawahnya," ujar Greer dalam Face the Nation di CBS.
Namun, sejumlah ekonom senior menyayangkan langkah ini. Mantan kepala BLS di masa kepresidenan Trump sebelumnya, William Beach, menyebut pemecatan ini "merusak kredibilitas statistik nasional". Ia menegaskan tak ada dasar yang kuat untuk pemecatan tersebut.
Erika McEntarfer sendiri menyampaikan pernyataan usai diberhentikan. Dalam unggahannya di Bluesky, ia menulis bahwa memimpin BLS adalah "kehormatan terbesar dalam hidupnya," sembari memuji dedikasi para pegawai yang bekerja mengukur dinamika ekonomi nasional.
Kritik juga datang dari mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers. Dalam This Week di ABC, ia menyebut pemecatan McEntarfer sebagai "tindakan yang bahkan lebih ekstrem dari era Nixon". Ia menegaskan bahwa angka pekerjaan dikerjakan oleh ratusan profesional, dengan prosedur ketat yang tidak bisa diintervensi secara politis.
"Menuding data ini palsu adalah hal yang tidak masuk akal," tegas Summers. Ia juga menghubungkan pemecatan ini dengan tekanan Trump terhadap berbagai lembaga seperti The Fed, universitas, media, dan firma hukum. "Ini sinyal berbahaya. Pemecatan ahli statistik adalah ciri negara yang sedang bergerak menuju otoritarianisme."
Di sisi lain, kebijakan tarif impor yang diumumkan Trump juga memicu kebingungan. Meski kini dinyatakan "final," beberapa pejabat mengakui masih ada potensi penyesuaian. Trump sebelumnya mendapat julukan "TACO"-Trump Always Chickens Out-karena sering menunda implementasi tarif.
Kombinasi kebijakan ekonomi yang tak konsisten dan tindakan kontroversial terhadap lembaga independen menimbulkan kekhawatiran luas akan arah demokrasi dan integritas data publik di Amerika Serikat.
Trump Dikecam Usai Pecat Kepala BLS, Ekonom Sebut Ini 'Langkah Otoriter'
Setelah pekan ekonomi yang buruk, Presiden Donald Trump menuai kritik tajam usai memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS), Erika McEntarfer. Langkah ini terjadi di tengah lesunya pertumbuhan lapangan kerja dan turunnya kepercayaan terhadap data ekonomi AS.
Pada bulan Juli, ekonomi Amerika hanya menambah 73.000 lapangan kerja-jauh di bawah ekspektasi analis. Tak hanya itu, dua bulan sebelumnya direvisi turun hingga 285.000 pekerjaan. Di tengah sorotan atas angka ini, Trump justru memecat McEntarfer, yang selama ini dikenal sebagai ahli statistik yang dihormati.
Pejabat Gedung Putih, termasuk Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, buru-buru membela keputusan Trump dalam wawancara di berbagai media nasional. "Presiden adalah presiden. Ia berhak memilih siapa yang bekerja di bawahnya," ujar Greer dalam Face the Nation di CBS.
Namun, sejumlah ekonom senior menyayangkan langkah ini. Mantan kepala BLS di masa kepresidenan Trump sebelumnya, William Beach, menyebut pemecatan ini "merusak kredibilitas statistik nasional". Ia menegaskan tak ada dasar yang kuat untuk pemecatan tersebut.
Erika McEntarfer sendiri menyampaikan pernyataan usai diberhentikan. Dalam unggahannya di Bluesky, ia menulis bahwa memimpin BLS adalah "kehormatan terbesar dalam hidupnya," sembari memuji dedikasi para pegawai yang bekerja mengukur dinamika ekonomi nasional.
Kritik juga datang dari mantan Menteri Keuangan AS, Larry Summers. Dalam This Week di ABC, ia menyebut pemecatan McEntarfer sebagai "tindakan yang bahkan lebih ekstrem dari era Nixon". Ia menegaskan bahwa angka pekerjaan dikerjakan oleh ratusan profesional, dengan prosedur ketat yang tidak bisa diintervensi secara politis.
"Menuding data ini palsu adalah hal yang tidak masuk akal," tegas Summers. Ia juga menghubungkan pemecatan ini dengan tekanan Trump terhadap berbagai lembaga seperti The Fed, universitas, media, dan firma hukum. "Ini sinyal berbahaya. Pemecatan ahli statistik adalah ciri negara yang sedang bergerak menuju otoritarianisme."
Di sisi lain, kebijakan tarif impor yang diumumkan Trump juga memicu kebingungan. Meski kini dinyatakan "final," beberapa pejabat mengakui masih ada potensi penyesuaian. Trump sebelumnya mendapat julukan "TACO"-Trump Always Chickens Out-karena sering menunda implementasi tarif.
Kombinasi kebijakan ekonomi yang tak konsisten dan tindakan kontroversial terhadap lembaga independen menimbulkan kekhawatiran luas akan arah demokrasi dan integritas data publik di Amerika Serikat.