Meta Jual Aset Pusat Data Rp33 Triliun! Siap Bangun 'Otak AI Super' Bareng Investor

Genvoice.id | 04 Aug 2025

JAKARTA, GENVOICE.ID - Meta, perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp, mengumumkan langkah mengejutkan.

Usut punya usut, mereka akan menjual aset pusat data senilai 2 miliar Dolar AS atau hampir Rp33 triliun! Keputusan ini merupakan bagian dari strategi baru untuk menggandeng mitra eksternal dalam pembiayaan infrastruktur demi mendukung ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari The Business Times pada Senin (4/8), informasi ini terungkap dalam laporan keuangan kuartalan Meta. Langkah ini menandai pergeseran penting di industri teknologi, yang sebelumnya cenderung mendanai proyek infrastruktur secara mandiri.

"Kami sedang menjajaki cara bekerja sama dengan mitra keuangan untuk mengembangkan pusat data secara bersama-sama," ujar Susan Li, Chief Financial Officer Meta.

Meta menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan komputasi AI generatif yang kian mahal. Meski sebagian besar pengeluaran modal tetap berasal dari dana internal, Li menegaskan bahwa beberapa proyek pusat data akan dibiayai melalui kemitraan eksternal guna menambah fleksibilitas keuangan jangka panjang.

Dalam dokumen keuangannya, Meta mengonfirmasi bahwa mereka telah menyetujui rencana untuk melepas sejumlah aset pusat data sejak Juni. Aset tersebut mencakup tanah dan proyek konstruksi senilai 2,04 miliar Dolar AS yang kini diklasifikasikan sebagai "held-for-sale" atau aset untuk dijual, dan ditargetkan akan dialihkan ke pihak ketiga dalam 12 bulan ke depan.

Per 30 Juni, total aset yang masuk kategori ini bahkan sudah mencapai 3,26 miliar Dolar AS atau sekitar Rp53,4 triliun.

"Hanya satu dari pusat data ini saja sudah mencakup sebagian besar area Manhattan," kata CEO Meta, Mark Zuckerberg, menggambarkan skala masif pusat data AI yang mereka bangun.

Zuckerberg memang telah menyatakan ambisinya untuk membangun supercluster AI, atau pusat data raksasa yang akan menopang pengembangan "superintelligence" di masa depan.

Tak hanya menjual aset, Meta juga menaikkan proyeksi belanja modal tahunannya. Dari batas bawah naik 2 miliar Dolar AS, kini anggaran berkisar antara 66 hingga 72 miliar Dolar AS (sekitar Rp1.081 triliun hingga Rp1.179 triliun).

Menariknya, seluruh strategi besar ini ditopang oleh pendapatan iklan yang terus meningkat, berkat sistem penargetan dan distribusi konten berbasis AI yang semakin canggih. Pendapatan iklan yang kuat ini menjadi penyeimbang atas lonjakan biaya infrastruktur.