Krisis Plastik Global Rugikan Kesehatan Manusia Rp24 Kuadriliun per Tahun, dari Bayi hingga Lansia
JAKARTA, GENVOICE.ID - Laporan terbaru yang diterbitkan jurnal medis The Lancet mengungkapkan peringatan serius: dunia tengah menghadapi krisis plastik yang mengancam kesehatan manusia dan planet bumi secara menyeluruh. Plastik disebut sebagai ancaman besar yang masih sering diabaikan, dan diperkirakan menimbulkan kerugian kesehatan global sebesar 1,5 triliun dolar AS atau sekitar Rp24 kuadriliun setiap tahunnya.
Produksi plastik telah melonjak lebih dari 200 kali lipat sejak 1950 dan diprediksi hampir tiga kali lipat lagi hingga 2060, mencapai lebih dari 1 miliar ton per tahun. Peningkatan paling tajam terjadi pada plastik sekali pakai-seperti botol minuman dan kemasan makanan cepat saji-yang menyumbang signifikan terhadap pencemaran lingkungan.
Saat ini, sekitar 8 miliar ton limbah plastik telah mencemari bumi, mulai dari puncak Gunung Everest hingga dasar palung terdalam di laut. Mirisnya, kurang dari 10 persen dari limbah itu berhasil didaur ulang. Sementara itu, sebagian besar lainnya dibakar secara terbuka atau dibuang sembarangan, mencemari udara dan lingkungan sekitar.
Dampak plastik terhadap kesehatan manusia sangat luas, dimulai dari proses ekstraksi bahan bakunya-yakni minyak bumi dan batu bara-hingga tahap pembuangan. Mikroplastik bahkan telah ditemukan dalam darah, otak, ASI, plasenta, dan sumsum tulang manusia. Beberapa studi telah mengaitkan paparan mikroplastik dengan risiko stroke, serangan jantung, gangguan kesuburan, dan kanker pada anak.
"Plastik memengaruhi semua lapisan masyarakat, tapi yang paling rentan adalah bayi dan anak-anak," kata Prof Philip Landrigan, ahli epidemiologi dan penulis utama laporan ini. Ia menegaskan pentingnya memasukkan isu kesehatan dalam perjanjian global tentang plastik.
Negara-negara petrostate seperti Arab Saudi bersikukuh bahwa solusi utama adalah daur ulang. Namun, para ilmuwan menyanggah klaim ini. Tidak seperti kertas atau kaca, sebagian besar plastik sangat sulit didaur ulang karena struktur kimianya yang kompleks. Laporan ini menyatakan, "Dunia tidak bisa mengandalkan daur ulang untuk keluar dari krisis plastik."
Lebih dari 16.000 bahan kimia digunakan dalam pembuatan plastik, dan banyak di antaranya berdampak negatif terhadap kesehatan manusia sepanjang hidup. Laporan ini menjadi yang pertama dari rangkaian pemantauan jangka panjang terhadap bahaya plastik, dengan harapan dapat memberi dasar ilmiah bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia.