27 Tewas Saat Berebut Bantuan, Menteri Israel Picu Amarah Usai Salat di al-Aqsa
JAKARTA, GENVOICE.ID - Kekerasan di Gaza kembali memuncak setelah pasukan Israel dilaporkan menembaki warga sipil yang tengah mengantre bantuan makanan, menewaskan sedikitnya 27 orang pada Minggu (3/8). Enam orang lainnya dilaporkan meninggal karena kelaparan atau malnutrisi dalam 24 jam terakhir, memperburuk krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Saksi mata menggambarkan suasana mencekam di lokasi distribusi bantuan yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), di mana peluru menghujani kerumunan warga yang kelaparan. "Saya tak bisa membantu orang yang terluka karena tembakan terus menghantam," kata Yousef Abed kepada AP.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total 119 orang tewas dalam 24 jam terakhir akibat serangan udara dan penembakan Israel, termasuk korban di lokasi bantuan. Serangan juga menyasar markas Bulan Sabit Merah Palestina di Khan Younis, menewaskan satu staf dan melukai tiga lainnya, serta menghancurkan sebuah sekolah yang menjadi tempat pengungsian warga.
Hingga kini, lebih dari 175 orang telah meninggal akibat kelaparan, termasuk 93 anak-anak. Para ahli menyebut peningkatan kematian akibat kelaparan pada Juli lebih tinggi dibanding 20 bulan sebelumnya.
Juru bicara Palang Merah Internasional, Hisham Mhanna, menegaskan bahwa Gaza membutuhkan masuknya bantuan kemanusiaan secara berkelanjutan dalam jumlah besar. "Rumah sakit dan pasien memerlukan lebih banyak makanan dari biasanya untuk pemulihan," ujarnya.
Di tengah situasi genting ini, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir justru memicu kemarahan internasional dengan melakukan salat di kompleks Masjid al-Aqsa, situs suci yang dijaga ketat dan menjadi titik sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Kunjungan Ben-Gvir memancing reaksi keras dari Yordania, yang menyebutnya sebagai "provokasi yang tidak bisa diterima". Sebelumnya, situs tersebut telah berulang kali menjadi pemicu bentrokan, termasuk saat polisi Israel menyerbu al-Aqsa pada 2023.
Ben-Gvir bahkan menyerukan agar Gaza dicaplok dan penduduknya dipaksa pergi. "Ini satu-satunya cara untuk mengembalikan sandera dan memenangkan perang," tulisnya di X.
Sementara itu, dua video baru yang menunjukkan kondisi sandera Hamas memicu gelombang protes di Israel. PM Benjamin Netanyahu menyerukan kepada Palang Merah Internasional untuk mengirim bantuan kepada para sandera, namun Hamas menyatakan baru akan mengizinkan bantuan masuk jika Israel menghentikan semua aktivitas udara saat pengiriman berlangsung.
Di Tepi Barat, ribuan warga turun ke jalan mengecam perang di Gaza dan penahanan massal warga Palestina oleh Israel. Saat ini, lebih dari 10.800 warga Palestina ditahan di penjara Israel, dengan laporan penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi terus bermunculan.