Siap-Siap Dompet Menjerit! 10 Barang Ini Diprediksi Makin Mahal Saat Dolar Tembus Rp18.000
Ketika nilai tukar rupiah melemah sampai tembus Rp18.000 per dolar AS, dampaknya bukan cuma angka di layar. Pelan tapi pasti, efeknya bakal terasa langsung ke kehidupan sehari-hari, terutama lewat harga barang yang ikut naik.
Secara sederhana, saat rupiah melemah, semua barang yang berkaitan dengan impor jadi lebih mahal. Ini karena transaksi internasional banyak menggunakan dolar, jadi biaya masuknya ikut naik.
Dari laporan yang beredar, ada sejumlah barang yang paling berpotensi mengalami kenaikan harga. Dan yang bikin kaget, banyak di antaranya adalah kebutuhan sehari-hari.
Mulai dari sektor makanan, bahan seperti gandum dan kedelai jadi yang paling terdampak. Artinya, produk turunan seperti mi instan, roti, tahu, dan tempe bisa ikut naik.
Lalu ada juga bahan pangan lain seperti bawang putih, susu impor, hingga daging tertentu yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Di luar makanan, barang elektronik juga jadi "korban cepat". Produk seperti HP, laptop, televisi, dan alat rumah tangga hampir pasti ikut naik karena sebagian besar komponennya masih impor.
Belum selesai di situ, sektor kesehatan juga kena imbas. Obat-obatan dan alat kesehatan yang bahan bakunya berasal dari luar negeri akan ikut terdorong naik harganya.
Kosmetik dan skincare juga tidak luput, terutama produk impor atau yang menggunakan bahan dari luar.
Lalu ada efek yang sering tidak langsung terasa, tapi signifikan. Biaya transportasi dan energi bisa ikut naik karena impor BBM dan LPG jadi lebih mahal.
Bahkan layanan digital berlangganan, tiket pesawat, hingga biaya pendidikan luar negeri juga berpotensi ikut naik karena semuanya berkaitan dengan kurs dolar.
Kalau dirangkum, barang yang berpotensi naik itu mencakup:
- Makanan berbasis impor
- Produk kedelai dan gandum
- Elektronik dan gadget
- Obat dan alat kesehatan
- Kosmetik
- Energi dan transportasi
- Produk rumah tangga berbahan impor
- Layanan digital
- Tiket perjalanan
- Pendidikan luar negeri
Fenomena ini dikenal sebagai "inflasi impor". Ketika biaya masuk barang naik, produsen biasanya punya dua pilihan, menanggung rugi atau menaikkan harga. Dan dalam banyak kasus, kenaikan harga jadi pilihan yang paling realistis.
Kalau dilihat dari situasi sekarang, efeknya mungkin belum langsung terasa semuanya. Tapi perlahan, kenaikan itu bisa muncul satu per satu. Dari belanja dapur sampai gadget yang kamu incar, semuanya bisa ikut berubah.