7 Penyebab Dolar Tembus Rp 18 Ribu, Rupiah Tertekan dari Dalam dan Luar Negeri

Genvoice.id | 04 Jun 2026

JAKARTA, GENVOICE.ID - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp18 ribu. Pada perdagangan Kamis (4/6), rupiah sempat berada di posisi Rp18.015 per dolar AS, sekaligus menjadi salah satu titik terlemah dalam sejarah.

Pelemahan rupiah kali ini terjadi cukup cepat. Dalam waktu kurang dari dua bulan, kurs dolar yang sebelumnya berada di kisaran Rp17 ribuan kini melonjak hingga melewati batas psikologis Rp18 ribu.

Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi tekanan global dan sentimen domestik yang membuat investor cenderung melepas aset berisiko, termasuk dari pasar Indonesia.

Berikut tujuh faktor utama yang dinilai menjadi penyebab dolar AS terus menguat terhadap rupiah.

1. Konflik Timur Tengah Bikin Dolar AS Diburu

Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk menjadi salah satu faktor terbesar yang mendorong penguatan dolar AS. Konflik yang melibatkan Iran dan respons militer Amerika Serikat membuat investor global mencari aset aman atau safe haven.

Dalam situasi tidak pasti, dolar AS biasanya menjadi pilihan utama investor dunia. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan.

Selain itu, konflik tersebut juga memicu kenaikan harga minyak dunia yang dapat memperbesar tekanan ekonomi bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

2. Dana Asing Keluar dari Pasar Saham Indonesia

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus keluar modal asing di pasar saham. Salah satu pemicunya adalah rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026.

Dalam penyesuaian tersebut, sejumlah saham Indonesia dikeluarkan dari indeks global MSCI. Situasi ini membuat banyak investor asing melakukan penjualan saham dan menarik dana mereka dari pasar domestik.

Ketika investor asing keluar, permintaan terhadap dolar otomatis meningkat karena dana hasil penjualan saham dikonversi ke mata uang AS.

3. Isu Penurunan Rating Kredit Indonesia

Pasar juga menyoroti isu mengenai kemungkinan turunnya peringkat kredit Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional.

Meski pemerintah membantah rumor tersebut, investor tetap mencermati perkembangan setelah sebelumnya Fitch dan Moody's sama-sama memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan kredibilitas kebijakan pemerintah di mata investor global.

4. Kondisi Fiskal Pemerintah Jadi Sorotan

Defisit anggaran pemerintah turut menjadi perhatian pasar. Realisasi defisit APBN yang mendekati batas maksimal dinilai memunculkan kekhawatiran mengenai ruang fiskal Indonesia.

Belanja negara yang masih tinggi di tengah tekanan penerimaan membuat sebagian investor mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga kesehatan fiskal dalam jangka panjang.

Sentimen tersebut ikut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap rupiah.

5. Kebijakan Ekspor Satu Pintu Memicu Ketidakpastian

Kebijakan pemerintah yang mulai menerapkan sistem ekspor komoditas melalui satu pintu juga menjadi perhatian pelaku pasar.

Program yang dijalankan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia itu bertujuan memperkuat penerimaan negara dan pengelolaan devisa. Namun, pelaku usaha masih menunggu kejelasan teknis terkait mekanisme ekspor, kontrak bisnis, hingga pembayaran internasional.

Ketidakpastian aturan semacam ini dinilai dapat memengaruhi arus devisa dan persepsi investor terhadap iklim usaha di Indonesia.

6. Surplus Neraca Dagang Menyusut Tajam

Neraca perdagangan Indonesia memang masih mencatat surplus, tetapi nilainya turun drastis dibandingkan bulan sebelumnya.

Surplus perdagangan yang menipis berarti tambahan pasokan dolar dari kegiatan ekspor ikut berkurang. Padahal, devisa hasil ekspor menjadi salah satu penopang utama kestabilan rupiah.

Ketika cadangan pasokan dolar melemah, tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi semakin besar.

7. The Fed Beri Sinyal Suku Bunga Tetap Tinggi

Arah kebijakan bank sentral AS atau The Fed juga menjadi faktor penting. Setelah sebelumnya diperkirakan akan agresif menurunkan suku bunga, kini pejabat The Fed mulai memberi sinyal lebih hawkish.

Kenaikan harga minyak dan ancaman inflasi akibat konflik geopolitik membuat peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama semakin besar.

Situasi ini membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor global. Akibatnya, aliran modal ke negara berkembang termasuk Indonesia ikut melemah dan rupiah semakin tertekan.

Tekanan terhadap rupiah saat ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi global dan domestik saling berkaitan erat. Di tengah penguatan dolar AS, pasar kini menantikan langkah pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tekanan terhadap ekonomi nasional tidak semakin dalam.